Ikatan Masyarakat Aceh-Turki (Ikamat) melaksanakan agenda Duek Pakat ke-9 yang disertai dengan diskusi panel bertemakan ‘’Napak Tilas Sejarah Hubungan Nusantara – Turki Utsmani.’’
Selain kedua acara tersebut Ikamat juga mengadakan pameran manuskrip bukti sejarah hubungan antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Turki Usmani.
Agenda yang dilaksanakan beberapa hari lalu ini didukung beberapa pihak yaitu: Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Istanbul, Atase Pertahanan RI Ankara (ATHAN), Atase Kepolisian RI Ankara (ATPOL), Perhimpunan Pelajar Indonesia di Bursa (PPI Bursa), INDORSAGRAPHY, Pemerintah Kota Bursa (Bursa Büyüksehir Belediyesi), Pemerintah Osmangazi (Osmangazi Belediyesi), Görükle Gençlik Merkezi (Pusat Pemuda Görükle), Fetih Müzesi (Museum Fatih), Fatih Sultan Mehmet Vakif Üniversitesi, Ipekyolu Uluslararasi Ögrenci Dernegi (Yayasan Mahasiswa Internasional Ipekyolu) dan Ilim Yayma Cemyeti. YA! Magazine juga turut andil dalam agenda ini sebagai Media Partner. IKAMAT mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerjasama seluruh pihak.
Duek Pakat ke-9 dilakanakan di ruangan serbaguna Museum Fatih atau Panorama 1326 Bursa Fetih Müzesi. Agenda terbagi dua bagian yang satunya khusus untuk internal dan yang lain terbuka untuk umum.
Agenda internal merupakan program inti pada acara Duek Pakat ke-9 yang mana dimulai dengan pemaparan hasil kerja kepengurusan IKAMAT periode 2019/2020 oleh Muhammad Haykal, dilanjutkan dengan pembahasan AD & ART IKAMAT dan ditutup dengan terpilihnya Muhammad Hani Syafiyyurrahman sebagai Ketua Umum IKAMAT periode 2020/2021.
Agenda umum yaitu Pameran Sejarah Aceh-Turki & Wisata Aceh di Hall Museum Panorama. Material pameran sejarah berupa manuskrip yang didapat dari Badan Arsip Negara dibawah naungan kantor Presiden Turki. Manuskrip yang di pameran menjelaskan tantang hubungan antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Utsmani, yang mana naskah aslinya masih tersimpan di Badan Arsip Negara Turki.
Ikamat juga membagikan brosur bahasa Turki yang menjelaskan tentang wisata Aceh kepada para pengunjung. Sehingga para pengunjung bisa mengenal keindaha Aceh lebih dekat. Lokasi tempat diselenggarakan Pameran Manuskrip Aceh-Turki juga dinilai tepat, sebab Museum Panorama Bursa merupakan museum yang dibangun sejak 2015 hingga di buka tahun 2018 oleh pemerintah setempat. Museum ini menjelaskan tentang penaklukan kota Bursa pada tahun 1326 oleh Sultan Orhan Gazi. Yang mana setiap hari selalu padat oleh pengunjung.
Siang harinya agenda dilanjutkan dengan Panel Terbuka bertemakan ‘’Napak Tilas Sejarah Hubungan Turki Utsmani dan Nusantara.’’ bertempat di Ördekli Kültür Merkezi. Diskusi panel tersebut dihadiri oleh Wakil Walikota Bursa Ahmet Yildiz, Konjen RI Bapak Imam As’ari dan Akademisi Ibn Haldun University Dr. Mehmet Özay sebagai panelis.
Acara dimulai dengan pembacaan Al-Quran, kata sambutan oleh Ketua Pelaksana, Ketua IKAMAT, Wakil Walikota Bursa dan Konjen RI. Setelah itu dilanjutkan oleh Diskusi Panel: Napak Tilas Sejarah Hubungan Nusantara – Turki Usmani.
Diskusi panel dimoderatori oleh Akbar Angkasa, dan Rahmat Ashari sebagai penerjemah panelis, sedangkan materi disampaikan oleh dua panelis yaitu Dr. Ögr. Üyesi Mehmet Özay, akademisi di Ibn Haldun Üniversitesi dan penulis buku Açe Darüsselam Sultanligi; serta Konsulat Jenderal RI di Istanbul, HE Imam As’ari.
Diskusi Panel ini sukses memberikan gambaran yang gamblang tentang sejarah hubungan diplomasi antara Turki Utsmani dan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dr. Mehmet Özay yang hadir sebagai narasumber memaparkan hubungan sejarah antar kedua ‘region’. Ia menggaris-bawahi pentingnya membaca sumber ketiga.
“Dalam hal ini, jika kita meneliti sejarah Nusantara & Turki Usmani, maka sumber utamanya tentu dari Nusantara & Ottoman itu sendiri. Namun sumber ketiga juga sangat signifikan. Secara spesifik ia menyebutkan pentingnya membaca sumber India, sebab baik Nusantara maupun Turki Usmani memiliki hubungan erat dengan anak benua India,” kata Mehmet Ozay.
Sedangkan Konjen RI Dr. Imam As’ari menyampaikan pentingnya membaca geopolitik dan konteks terlebih dahulu sebelum membaca hubungan antara Ottoman & Kerajaan Islam Nusantara. Kita perlu keluar dari konteks nation-state, baru kemudian bisa membaca hubungan sejarah kedua kesultanan tersebut dengan jelas imbuhnya.
Tujuan daripada Diskusi Panel: Napak Tilas Sejarah Hubungan Nusantara – Turki Utsmani adalah untuk memberikan informasi kepada pelajar dan masyarakat umum di Bursa terkait hubungan Turki dengan kawasan Asia Tenggara secara umum dan Indonesia secara khusus pada masa Turki Utsmani dan Post Modern. Diskusi Panel: Napak Tilas Sejarah Hubungan Nusantara – Turki Utsmani ini adalah bentuk kontribusi masyarakat Aceh yang berdomisisli di Turki kepada Indonesia dalam bentuk diplomasi sejarah.
“Alhamdulillah berkat dukungan, partisipasi dan kontribusi dari teman-teman sekalian, acara yang kita lakukan bisa berjalan dengan lancar.” Ucap Fahri Husaini selaku ketua pelaksana Agenda Duek Pakat yang ke 9 dan Diskusi Panel; Napak Tilas Sejarah Hubungan Turki Utsmani dan Nusantara.
Ia berharap dengan adanya agenda semacam ini khususnya Diskusi Panel mampu memberikan semangat kepada kaum millennial baik di Indonesia maupun di Turki untuk dapat melanjuti semangat persaudaraan kedua negara yang telah terjalin selama lebih kurang lima abad.[] Rilis






