BANDA ACEH – Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh memfasilitasi pengurusan dan pemberangkatan 42 calon mahasiswa asal Aceh untuk belajar ke Timur Tengah.
Ketua IKAT Aceh M. Fadhil Rahmi, saat temu ramah dengan Wali Kota Banda Aceh di pendopo wali kota kemarin menjelaskan, dari 42 calon mahasiswa tersebut, 40 rencananya akan berangkat ke Mesir untuk kuliah di Universitas Al Azhar. Sementara dua lainnya mendapatkan beasiswa ke Sudan.
“Enam yang mendapat beasiswa, selebihnya berangkat dengan bea sendiri,” kata Fadhil Rahmi di acara yang juga diikuti para calon mahasiswa dan wali mereka.
Ia juga mengungkapkan fakta miris, ada 11 calon mahasiswa yang gagal berangkat karena alasan finansial. Hal ini tentu sangat disayangkan. Padahal mereka mengikuti seleksi yang sangat ketat. Diuji oleh pakar baik dalam maupun luar negeri, menyisihkan ribuan peserta lain seluruh Indoensia, ujarnya.
Fadhil berharap, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten maupun legislatif peduli pada anggaran beasiswa pendidikan S1 bagi mahasiswa di Timur Tengah seperti Sudan, Mesir, Maroko, Tunisia, Yaman dan negara lainnya.
Alhamdulillah, secara non formal, sudah dua kabupaten kota yang komit untuk mengalokasikan beasiswa untuk putra-putri terbaiknya belajar ke Timur Tengah khususnya untuk jenjang S1, yaitu Banda Aceh dan Aceh Tenggara. Semoga secepatnya terwujud. IKAT siap membantu fasilitasi pengurusan dan pemberangkatan, insya Allah.”
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal dalam kesempatan itu mengatakan, Mesir merupakan pilihan yang baik untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya dinamika dan dialektika keilmuan di Mesir sangat hidup. Ditopang dengan semangat beragama yang kuat dalam diri masyarakat Mesir.
Karena itu menurut Illiza yang juga memiliki dua orang anak yang sedang belajar di Mesir, Mesir dan Al Azhar merupakan ruang kuliah tak terbatas, mulai dari kampusnya, berbagai halaqah talaqqinya (majelis ilmu) serta lingkungannya.
Banyak hal positif yang bisa diambil dari Mesir, tutur Illiza ketika mengenang perjalanan anaknya selama berada di Mesir. Mulai dari perkembangan pemikiran sampai dengan kepribadian. Menurut beliau, Mesir berhasil mendidik kedua anak beliau sesuai dengan harapan Islam dan orang tua.[](ihn)



