WASHINGTONPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar pertemuan hangat dan ramah dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman (MbS) di Gedung Putih, Washington, AS. Pertemuan pada Selasa (Rabu pagi WIB) diwarnai jabat tangan dan tepukan punggung yang akrab, mengesampingkan pertanyaan mengenai catatan hak asasi manusia (HAM) Arab Saudi.

Trump memuji kenegarawanan sang pangeran dan mengumumkan investasi baru Saudi senilai ratusan miliar dolar di Amerika Serikat.

Perwakilan Gedung Putih menyambut pemimpin de facto monarki absolut tersebut dengan segala kemewahan, termasuk kirab kehormatan berkuda, flyover jet tempur yang disaksikan kedua pemimpin dari karpet merah, dan jamuan makan malam mewah di East Room.

Pertemuan di Ruang Oval ini, yang terjadi tujuh tahun setelah MbS diimplikasikan oleh badan intelijen AS dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, menjadi ajang bagi Trump dan MbS untuk menjawab berbagai pertanyaan. Di tempat itu, salah satu wartawan sempat berulang kali diolok-olok oleh Trump, karena bertanya mencakup isu perdagangan hingga penjualan jet tempur canggih F-35 ke Riyadh.

Keran Kerja Sama Militer Dibuka

Trump mengumumkan persetujuan penjualan jet tempur F-35 kepada Arab Saudi. Keputusan ini sebelumnya telah disinggung pada Minggu (16/11/2025) dan diformalkan di hadapan MbS pada Selasa, 18 November 2025. Trump meyakinkan kekhawatiran Israel mengenai pemeliharaan keunggulan militer kualitatif (qualitative military edge) di Timur Tengah akan ditangani.

“Sejauh yang saya perhatikan, saya pikir keduanya (Arab Saudi dan Israel) berada pada level di mana mereka harus mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Israel tahu dan mereka akan sangat senang,” kata Trump, merujuk pada Israel yang sudah memiliki F-35.

Pejabat Israel mengisyaratkan tidak akan menentang Saudi mendapatkan F-35 asalkan pemerintah Arab Saudi menormalisasi hubungan dengan Israel di bawah kerangka Abraham Accords. Pangeran Mohammad mengulangi posisi Saudi, menyatakan mereka ingin bergabung dengan Abraham Accords tetapi hanya setelah ada jalur yang kredibel dan terjamin menuju solusi dua negara untuk Palestina.

Selain F-35, Trump juga mengumumkan bahwa AS dan Saudi akan merampungkan perjanjian yang lebih luas mengenai isu militer dan keamanan, termasuk kesepakatan bagi Saudi untuk membeli hampir 300 tank dari AS. Trump juga menyatakan akan melanjutkan perjanjian nuklir sipil dengan Saudi, meskipun Israel juga telah menyuarakan kekhawatiran mengenai hal ini.

Sebagai penutup, Trump mengumumkan ia menetapkan Arab Saudi sebagai Sekutu Utama Non-NATO (Major Non-NATO Ally), sebuah langkah simbolis yang memberikan mitra asing beberapa manfaat kerja sama pertahanan dan perdagangan.

Pertemuan ini adalah kunjungan Gedung Putih pertama bagi Putra Mahkota sejak Khashoggi, kolumnis Washington Post dan penduduk AS, dibunuh dan dimutilasi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2018. Intelijen AS menyatakan Pangeran Mohammad kemungkinan besar menyetujui pembunuhan tersebut.

Dalam momen yang mencolok di Ruang Oval, MbS menghadapi pertanyaan dari wartawan, hal yang tidak biasa bagi pemimpin de facto monarki absolut di mana perbedaan pendapat dikriminalisasi. Ia ditanya tentang pembunuhan Khashoggi dan peran warga Saudi dalam serangan 11 September 2001.

Namun, Trump menyerang balik wartawan yang melontarkan pertanyaan tersebut. Trump menyebut Khashoggi, seorang aktivis pro-demokrasi Saudi, sangat kontroversial. “Banyak orang tidak menyukai pria yang Anda bicarakan itu. Entah Anda menyukai dia atau tidak, hal-hal terjadi, tetapi dia (putra mahkota) tidak tahu apa-apa tentang itu, dan kita bisa sudahi saja,” tekannya.

Pangeran Mohammad, yang selama ini membantah terlibat dalam pembunuhan Khashoggi, menjawab bahwa pemerintahnya telah mengambil tindakan. “Ini menyakitkan bagi kami di Arab Saudi. Kami melakukan semua langkah investigasi yang benar, dan kami telah meningkatkan sistem kami untuk memastikan hal seperti itu tidak terulang lagi. Itu menyakitkan, dan itu adalah kesalahan besar,” katanya.

Trump juga memuji MbS atas kemajuan yang dicapai Kerajaan dalam HAM, diduga mengacu pada reformasi hak-hak perempuan, tanpa memberikan detail spesifik. “Apa yang telah dia lakukan luar biasa dalam hal hak asasi manusia dan segala hal lainnya,” ujar Trump.

Pangeran Mohammad menyampaikan kepada Trump, negaranya akan meningkatkan komitmen keuangannya di AS dari US$ 600 miliar (yang diumumkan selama kunjungan Trump ke Riyadh pada Mei) menjadi US$ 1 triliun.

Rincian kesepakatan komersial dan ekonomi ini belum jelas, tetapi diperkirakan akan mencakup investasi di berbagai bisnis Amerika, termasuk Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/ AI), serta pembelian mesin jet dan peralatan lainnya.