Salah satu ibadah yang dilakoni oleh sebagian umat Islam selama bulan Ramadan adalah ibadah suluk. Kita mengetahui bahwa dalam merealisasi etika dan estetika spritual, seorang salik (penempuh suluk) harus melakukan beberapa ritual. Ritual tersebut mereka jalankan dalam bentuk zikir, pikir, dan muraqabah.
Diharapkan semua elemen tersebut sebagai pilar tasawuf ini diyakini oleh setiap salik sebagai satu-satunya jalan yang mampu membentuk psikospiritual dalam kehidupan mereka. Dalam sebuah tarekat keadaban atau etika menjadi hal yang sangat tinggi nilainya, begitu juga dalam tarekat Naqsyabandiah. Seorang salik sebelum terjun berzikir harus terlebih dulu memperhatikan adab dan etikanya.
Menanggapi problem ini Syekh Amin Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub menyebutkan ada 11 macam adab yaitu berwudu, salat sunat dua rakaat, menghadap kiblat di tempat yang sunyi, duduk dengan posisi kebalikan dari duduk tawarruk dalam salat. Duduk dalam salat seperti itu lebih merendahkan diri dan panca indra lebih terhimpun. Selanjutnya istighfar sebanyak 5 atau 15 atau 25 kali, membaca Alfatihah satu kali dan surat Al-Ikhlas tiga kali, dan dihadiahkan kepada roh Nabi Muhammad SAW dan kepada roh-roh para syaikh tharikat Naqshabandiyah, memejamkan kedua mata, mengunci mulut dengan mempertemukan kedua bibir.
Dalam hal ini lidah dinaikkan ke langit-langit mulut. Hal ini dilakukan untuk mencapai kekhusyuan yang sempurna dan lebih memastikan lintasan-lintasan di dalam hati yang harus lebih diperhatikan, rabithah kubur, yakni dengan membayangkan bahwa diri kita telah mati, dimandikan, dikafani, disalatkan, diusung ke kubur dan dikebumikan. Semua sanak keluarga dan sahabat, dan kenalan meninggalkan kita sendirian dalam kubur.
Pada waktu itu ingatlah bahwa segala sesuatu tidak berguna lagi, kecuali amal saleh, rabithah mursyid, yakni murid menghadapkan hatinya ke hati syaikh (guru) dan menghayalkan rupa guru, dengan menganggap bahwa hati guru itu pancuran yang melimpah dari lautan yang luas ke dalam hati murid. Dan syaikh itu merupakan wasithah (perantara) untuk sampai kepada Allah. Menghimpun semua panca indra, memutuskan hubungan dengan semua yang membuat kita ragu kepada Allah, dan menghadapkan semua indra hanya kepada Allah. Kemudian mengucapkan ilahi anta maqshudi waridhaka mathlubi sebanyak tiga kali, kemudian berzikir sesuai dengan amaliah masing-masing salik (Tanwirul Qulub, Syekh Amin Qurdi, h. 5110).
Suluk, Dokter Spesialis Qalbu
Syekh Amin Kurdi juga menyebutkan seorang salik harus mempunyai dua puluh syarat untuk mengarungi samudera ibadah suluk. Salik terlebih dulu harus ada niat ikhlas untuk beribadah dan tidak mengharapkan kemulian dan karamah, berpuasa, berkekalan wudhu di samping beberapa syarat lainnya. (Tanwirul Qulub, Syekh Amin Kurdi, h. 430-431)
Bersuluk itu laksana seorang sedang diopname di rumah sakit rohani dengan mursyid sebagai dokter spesialisnya. Di dunia kedokteran sendiri seorang pasien yang mengindap penyakit diabetes umpamanya, dokter menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula yang berfek negatif terhadap kesehatan pasien tersebut.
Begitu juga seorang salik yang di opname di Madrasah Penyakit Qalbu (MPQ) di pondok suluk, sang mursyid sebagai dokter menganjurkan kepada pasiennya untuk tidak memakan dan meminum berbagai jenis unsur yang berdarah seperti daging, ikan dan sejenisnya selama bersuluk tujuannya untuk melunakkan hati dan menghilangkan berbagai perangai hewaniah lainnya selama dalam masa opname di MPQ, sehingga anwaru az-zikri (cahaya zikir) bisa berperan aktif menjadi obat dan melumpuhkan berbagai virus yang telah mmenggerogoti sang qalbu.
Mereka yang banyak memakan dagingpun akan menyebabkan keras hati seperti pesan Saidina Ali bin Abi Thalib: “Barangsiapa berkekalan makan daging 40 hari, keras hatinya…”. Pantangan ini bukanlah haram secara syari yang berefek berdosa apabila melanggarnya sebagaimana yang dipahami oleh sebagian masyarakat. Hanya pantangan selama dalam MPQ sesuai anjuran mursyid. Kita berharap semoga ibadah suluk kita mampu menjadi kita insan qurani dengan mengaplikasi nilai-nilai al-quran dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.[]

