Sebagian ahli ibadah atau masyarakat pada bulan tertentu seperti Ramadhan, Zulhijjah dan Rabiul Awal menjadikan bulan tersebut untuk memfokus diri lebih taqarrub kepada Allah SWT. Salah satu medianya lewat bersuluk. Suluk merupakan implementasi dari tarekat Naqsyabandiah.
Ada sebagian masyarakat menganggap ibadah suluk yang telah dijalani dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan perkara bidah, sesat dan tidak ada dalil dan tak dikerjakan Rasulullah, para sahabat maupun ulama terdahulu.
Penulis menganggap mungkin anggapan itu muncul karena ketiadaan ilmu dan kurang memahami, serta para ahli ilmu tidak menjelaskan kepada masyarakat yang awam tersebut. Ini mungkin salah satu kekurangan para ahli ilmu dalam mentransferkan pemahaman dalam bingkai dakwah kepada mereka. Juru dakwah dan ahli ilmu harus merasa bersalah karena “awan jahil” yang masih menaungi pemikiran mereka.
Sejarah Tarekat Naqsyabandiah
Salah satu tarekat yang sangat berkembang di dunia saat ini adalah Tarekat Naqsyabandiyah. Secara etimologi, kata tarekat berasal dari bahasa Arab, bermakna yang jalan (Mahmud Yunus, 236). Sedangkan dalam terminologinya tarekat yaitu suatu jalan atau metode yang ditempuh dalam melakukan ibadah, zikir dan doa yang diajarkan seorang guru kepada muridnya (Taufik Abdullah dkk, 152).
Tarekat Naqsyabandiyah merupakan sebuah tarekat yang lahir dan berkembang pada abad ke-8 Hijriah, yang dinisbahkan kepada nama Syekh Bahauddin Naqsyabandiyah, nama lengkapnya al-Syekh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Syekh Naqsyabandiyah (717 H/1318 M-791 H/1389 M).
Beliau lahir di Desa Hinduan (kemudian berubah nama dengan Qash Arifan), empat mil dari Bukhara, Sovyet atau Rusia sekarang. Naqsyaband secara harfiah bermakna pelukis, penyulam, penghias. Jika nenek monyang mereka adalah penyulam, nama itu mungkin mengacu pada profesi keluarga; jika tidak, hal itu menunjukkan kualitas spritualnya untuk melukis nama Allah di atas hati murid.
Syekh Bahauddin kala masih berumur belasan tahun, beliau belajar kepada Muhammad Baba al-Sammasi dan kemudian melanjutkan pendidikannya pada Amir Kulal. Pada usia 18 tahun beliau pergi ke Sammas, yaitu sebuah tempat yang jaraknya tiga mil dari Bukhara untuk melanjutkan pelajarannya. Di tempat ini beliau mempelajari ilmu tasawuf pada seorang guru yang terkenal saat itu al-Dikkirani, selama satu tahun. Selanjutnya beliau bekerja pada Sultan Khalid yang menurut riwayat sangat terkenal pada masa pemerintahanya dan termasyhur disebabakan Bahauddin Naqsyabandi. (Sri Mulyati, Tarikat-Tarikat Muktabarah di Indonesia, 2006)
Misri Muchsin dalam bukunya Kontroversi Darul Arqam Sejarah, Tarekat dan Poligami, menyebutkan saat sultan mangkat, maka Naqsyabandi pulang ke desanya dan di sana beliau menjalankan hidup sufi dan zuhud dengan memperoleh pengikut yang banyak dan menyebarkan ajaran sufi tersebut. Di tempat itu pula beliau meninggal dunia pada tahun 791 H / 1389 M, dalam usia 72 tahun. Berkat dari kedua guru utamanya, Baba al-Sammasi dan Amir Kulal, membuat beliau mendapat mandat estafet sebagai pewaris tarekat ini.
Tarekat Naqsyabandiyah mula-mula populer di Asia Tengah dan telah banyak menarik minat orang dari bebagai lapisan masyarakat. Walaupun beliau mempunyai jalinan dan hubungan dengan kalangan penguasa dan bangsawan, tetapi beliau membatasi diri dalam pergaulannya dengan mereka. Dalam kondisi demikian beliau tetap dihormati para penguasa.
Dalam perjalanan sufinya, Syekh Bahauddin mengatakan, ia berpegang teguh pada jalan yang ditempuh Nabi Muhammad dan sahabatnya. Salah satu ungkapan beliau mengatakan, sangatlah mudah mencapai puncak pengetahuan tertinggi tentang monoteisme (tauhid), tetapi sangat sulit mencapai makrifat yang menunjukkan perbedaan halus antara pengetahuan dan pengalaman spiritual.
Sebagai tarekat yang muktabar, tarekat Naqsyabandi ini yang dinisbahkan kepada beliau sendiri Syekh Bahauddin, ajarannya berasal dari Nabi Muhammad, dengan penurunan atau pewarisan secara tarqqi (berantai) seperti yang telah ditulis Muhammad Nazimuddin Amin al-Qurdi dalam kitabnya, Tanwiru al-Qulub. Dalam kitab tersebut tertulis secara jelas susunan silsilah Tarekat Naqsyabandiyah mulai dari Nabi Muhammad sampai kepada Bahauddin Naqsyabandi (Muhammad Anshari, 2014).[]

