BANDA ACEH Kontes pemilihan kepala daerah tinggal menghitung hari. Banyak hal yang menarik dari pesta demokrasi kali ini, salah satunya adalah rendahnya partisipasi perempuan dalam pemilihan kepala daerah di Aceh.
Menuju ajang pemilihan hanya ada dua calon kepala daerah dari perempuan yakni Illiza Saadudin Jamal selaku petahana dan Marniati yang merupakan wajah baru dan maju melalui jalur perseorangan. Uniknya, keduanya adalah bakal calon wali kota Banda Aceh.
Sosialog Universitas Syiah Kuala, Saifuddin Bantasyam mengatakan, ada beberapa hal yang mengakibatkan perempuan di Aceh enggan ambil bagian dalam kontes pemilihan kepala daerah atau kontes politik lainnya. Mulai dari faktor sosial budaya, sampai persepsi perempuan itu sendiri tentang dunia politik.
Saya melihat persoalan ini bukan pada rendahnya potensi perempuan untuk berkecimpung dalam dunia politik, melainkan cara pandang perempuan itu sendiri tetang politik, ucap Saifuddin yang dihubungi portalsatu.com, Sabtu, 20 Agustus 2016.
Ia menjelaskan, mayoritas perempuan masih memandang politik sebagai dunianya laki-laki. Tak hanya itu perempuan Aceh juga cenderung melihat profesi politikus bukanlah profesi yang menjanjikan untuk masa depan.
Tidak pula kurang perempuan yang melihat politik sebagai dunia yang keras, culas, penuh intrik, dan sarat dengan konflik oleh sebab itu mereka merasa tidak siap untuk masuk dalam dunia politik, kata Saifuddin.
Ternyata konteks sosial budaya di Aceh dan cara pandang masyarakat juga menjadi faktor kurangnya minat perempuan untuk maju dalam dunia perpolitikan. Saifuddin mengatakan, masih banyak orang tua yang tidak merestui anak perempuannya untuk maju dalam kontes politik sehingga organisasi partai politik sangat didominasi oleh kaum Adam.
Akademisi Universitas Syiah Kuala ini juga menyebutkan, ada beberapa alasan agama yang kemudian juga dipakai untuk menghilangkan peran perempuan dalam konteks politik. Akan tetapi faktor yang paling besar adalah perspektif perempuan itu sendiri dalam melihat politik.
Bagi saya, kurangnya perempuan jadi politisi lebih disebabkan pada perspektif mereka melihat politik dibanding dengan potensi mereka, ucapnya.
Lebih lanjut, salah seorang sosiolog ternama di Aceh ini juga mengatakan bahwa masyarakat Aceh masih kental dalam menganut paham patriakhis yang menuntut peran laki-laki lebih dominan ketimbang peran perempuan.
Kita masih menganut paham patriakhis, laki-laki dominan dan superior sedangkan perempuan inferior dan menjadi subordinat. Kultur tersebut sangat eksis saat ini. Sehingga masih ada ketidakpercayaan kepada perempuan dalam konteks politik, kata dia.
Hal yang sudah mengakar seperti itu katanya sangat sulit untuk diubah. Pola pikir dan konsep hidup yang demikian menurut Saifuddin sudah mengakar di Aceh. Perubahan sudut pandang harus didahului oleh perubahan kultur atau budaya, ucapnya.[](tyb)




