BLANGKEJEREN – Kabupaten Gayo Lues akan memamerkan Alquran tertua dari Masjid Tertua Penampaan, Blangkejeren pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII di Banda Aceh, 5 – 15 Agustus 2018. Selain itu dalam eksibisi, tarian saman tetap menjadi andalan kabupaten berjuluk Negeri Seribu Bukit itu.

“Insya Allah, kita sudah siap. Saya kira persiapan untuk segala talent dan eksibisi sudah mencapai 95 persen. Untuk pameran dan kuliner juga tinggal berangkat,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues, Syafruddin, dihubungi portalsatu.com/, Selasa, 31 Juli 2018.

Syafruddin menyebutkan, yang paling menarik di anjungan Gayo Lues adalah pameran untuk potensi budaya, wisata dan daerah. “Di stan kuliner, saya kira semua masyarakat Aceh khususnya harus mencoba masakan khas Gayo Lues. Di sana nanti akan ditampilkan mulai dari bahan yang digunakan hingga cara memasaknya. Kuliner andalan kita sebenarnya yang gampang-gampang saja, murah meriah dengan rasa khas, seperti pengat, masam jeng, cicah, makanan yang berbahan dasar ikan dan lainnya,” ujar dia.

Dia melanjutkan, “Untuk benda yang akan dipamerkan, andalan kita Alquran tua yang ada di Masjid Tua Penampaan. Hingga saat ini kita masih terus mengumpulkan benda-benda yang bernilai sejarah. Tarian yang akan kita pentaskan Saman sudah pasti, tari kreasi bertema salawat, musik garapan tradisional, dalail khairat, peuayon aneuk, poh gaseng, geulayang tunang dan lainnya.”

Total tim dikirim Gayo Lues ke PKA di Banda Aceh mencapai 227 orang. “Semuanya 227 orang, 58 di antaranya panitia, sedangkan sisanya merupakan peserta. Hampir semua perlombaan kita ikut, termasuk kuliner,” ucap Syafruddin.

“Mengenai outcome, kita hanya ingin masyarakat Aceh khususnya, tidak lagi memandang Gayo Lues sebelah mata. Di sini kita sama-sama bertanggung jawab memperkenalkan seni budaya dan potensi daerah kita kepada masyarakat luar Aceh dan juga dunia,” kata Syafruddin.

Satu-satunya kendala yang cukup mengganggu pikiran Syafruddin kemarin adalah mengenai perubahan jadwal pembukaan PKA. Awalnya direncanakan pembukaan dilakukan 6 Agustus, tapi kemudian dipercepat menjadi 5 Agustus.

“Sedari awal budget yang telah kita siapkan untuk 10 hari, karena rencananya 5 Agustus kita tiba di Banda Aceh. Namun karena perubahan jadwal, akhirnya kita harus tiba di Banda Aceh pada 4 Agustus, berarti bertambah satu hari lagi. Biaya yang kita persiapkan hanya untuk 10 hari, tapi sekarang menjadi 11 hari. Ini tentunya memakan biaya tambahan dari segi penginapan dan konsumsi untuk peserta kami, itu kendalanya,” pungkas Syafruddin.[]