LHOKSEUMAWE – Waki Ketua Komisi B (Bidang Perekonomian dan Keuangan) DPRK Lhokseumawe, Mukhlis Azhar, menyayangan sejumlah bangunan pasar terbengkalai lantaran tidak difungsikan. Mukhlis Azhar akrab disapa Pak Ulis menilai kondisi tersebut terjadi akibat lemahnya perencanaan dari pemerintah, sehingga setelah pasar dibangun dengan anggaran cukup besar, tidak membawa manfaat untuk masyarakat dan daerah ini.
“Kami sangat menyayangkan banyak bangunan yang tidak produktif. Seharusnya sarana yang sudah ada itu dapat berfungsi dengan baik. Padahal, bila dimanfaatkan, lokasi pasar yang sudah dibangun tersebut dapat menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk Pemko Lhokseumawe. Dan ternyata (yang terjadi) tidak demikian,” ujar Pak Ulis dihubungi portalsatu.com/, Kamis, 31 Mei 2018, sore.
Pak Ulis menyampaikan itu saat diminta tanggapannya terkait sejumlah bangunan pasar di Lhokseumawe yang tidak difungsikan. Bahkan, ada bangunan pasar yang kini hancur total diduga akibat dijarah pihak tidak bertanggung jawab, yakni Pasar Sayur dan Kios maupun Pasar Ikan dan Pelelangan Ikan di Dusun Kuta Kareung, Gampong Meunasah Mesjid, Cunda, Kecamatan Muara Dua.
Data diperoleh portalsatu.com/, pembangunan pasar tersebut menggunakan dana Otsus tahun 2012 senilai Rp2,1 miliar lebih. Selain itu, bangunan yang direncanakan menjadi Pasar Modern Kota Lhokseumawe, di kawasan Pusong, Kecamatan Banda Sakti, tidak difungsikan alias terbengkalai.
Pemko Lhokseumawe juga belum memfungsikan Pasar Induk yang dibangun di Jalan Lingkar, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, sehingga terkesan terbengkalai. Dibangun sejak tahun 2015 sampai 2017, Pasar Induk Kota Lhokseumawe yang lokasinya tidak jauh dari Jembatan Loskala, Kecamatan Muara Satu, itu sudah menghabiskan dana Rp10 miliar lebih.
Menurut Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagperinkop-UKM) Lhokseumawe, Irwansyah, Pasar Induk itu akan difungsikan pada awal tahun 2019. “Kita usahakan pada awal tahun 2019 bisa berfungsi secara maksimal,” kata Irwansyah. (Baca: Mengapa Pasar Induk Lhokseumawe Belum Difungsikan? Ini Kata Kabid Perdagangan)
‘Jangan asal buat’
Pak Ulis menilai, jika Pasar Induk Kota Lhokseumawe itu tidak difungsikan sesegera mungkin, dikhawatirkan akan terjadi kerusakan yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung jawab. “Karena kita lihat pengalaman sebelumnya di lokasi pasar lainnya memang demikian,” ujarnya.
Menurut dia, sangat disayangkan kalau pembangunan Pasar Induk yang sudah menghabiskan dana Rp10 miliar lebih tidak menghasilkan manfaat apapun untuk masyarakat dan Kota Lhokseumawe. “(Jika tidak difungsikan) itu buat apa (dibangun). Maka kita mengimbau kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan itu, serta dapat difungsikan dengan maksimal,” kata Pak Ulis.
Anggota DPRK dari Partai Hanura ini mengingatkan Pemko Lhokseumawe agar setiap sarana dan prasarana yang dibangun harus benar-benar bermanfaat untuk masyarakat. “Dengan menghabiskan anggaran yang begitu besar dan tidak mendapat keuntungan bagi rakyat, tentunya tidak efektif,” ujar Pak Ulis.
Pak Ulis menambahkan, Pemko Lhokseumawe ke depan harus mengeluarkan anggaran seefektif mungkin. Artinya, kata dia, jangan asal buat saja, sehingga program yang dilaksanakan pada akhirnya tidak berjalan maksimal. Contohnya, banyak bangunan pasar terkesan tidak terurus dengan baik.
“Saya melihat (kondisi ini terjadi karena) pihak eksekutif dari segi perencanaan penganggaran itu masih lemah. Dalam sebuah proyek itu harus dilakukan perencanaan yang matang. Apabila perencanaannya bagus, tentunya dalam pelaksanaannya pun sempurna. Jadi, harus dianalisa terlebih dahulu dalam menjalankan program dan kegiatan,” kata Pak Ulis.[]




