BANDA ACEH – Wakil Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati, berharap Pidie Apam Fair mampu menjadi salah satu event wisata tradisional yang digelar setiap tahun di Aceh. Kegiatan ini dinilai sebagai sarana memperkenalkan keragaman kuliner “Bumi Serambi Mekkah” kepada masyarakat luas.
“Beruntung sekali, Pemerintah Kabupaten Pidie cukup peduli dengan kelestarian kuliner Aceh, sehingga muncullah gagasan untuk menyelenggarakan lomba Tôt Apam (memasak/membakar kue serabi) dalam acara Pidie Apam Fair 2018 ini. Sepanjang pengetahuan kami, ini merupakan festival apam pertama yang pernah diadakan di Aceh,” ujar Dyah Erti saat pembukaan Pidie Apam Fair, di Alun-alun Kota Sigli, Minggu, 29 April 2018.
Dyah menilai wajar jika masyarakat Aceh merasa gembira dengan festival seperti ini, terutama bagi mereka yang mengetahui kelezatan kue apam. Selain itu, kegiatan seperti ini menjadi media nostalgia bagi warga yang pernah merasakan nikmatnya kue apam yang diracik oleh ibu, nenek atau anggota keluarga lainnya di masa lalu.
Apam adalah penganan khas Aceh yang dibuat dari campuran tepung beras, santan, air kelapa, air putih, garam dan gula pasir. Bahan-bahan tersebut diaduk dan dituang dalam kuali terbuat dari tanah liat—di Aceh disebut cuprok tanöh—berukuran kecil. Selanjutnya cuprok tanöh itu dibakar hingga apam mengering. Teknik memasak seperti inilah yang sering disebut dengan istilah tôt apam.
“Bagi masyarakat Aceh yang pernah menikmati apam ini, pasti sulit melupakan rasa lokal dan kelezatannya. Sayangnya, belakangan ini budaya memasak apam, khususnya di Pidie, mulai banyak dilupakan orang. Kalaupun masih ada, cara memasaknya mungkin sudah berbeda karena cenderung menggunakan alat-alat moderen. Inilah yang membuat apam tidak lagi selezat dulu sehingga kurang diminati banyak orang,” ujar Dyah.
Dyah mengapresiasi Pemkab Pidie yang menggagas event diikuti lebih 1.000 orang peracik apam, yang berasal dari 23 kecamatan di kabupten ini. Para peserta akan bersaing untuk menjadi yang terbaik di event perdana ini.
“Pidie Apam Fair ini merupakan sebuah kegiatan wisata yang sangat potensial dikembangkan di masa depan. Selain untuk melestarikan masakan tradisional kita, juga untuk memperkenalkan makanan khas Aceh kepada masyarakat luas. Dengan demikian, masyarakat Indonesia tidak hanya mengenal kopi Gayo, timphan, mie atau kuah kari sebagai kuliner dari Aceh, tapi juga mengenal apam sebagai salah satu makanan khas daerah kita,” kata Dyah.
Dyah didampingi Bupati Pidie, Roni Ahmad, turut meninjau sejumlah stan. Dyah juga mendapatkan les singkat dari para peserta tentang cara tôt apam.[](rel)



