BANDA ACEH – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Soedarmo meminta Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh berlaku netral selama pilkada 2017.
“Kerjalah sesuai dengan frame yang sudah ada. Jangan coba-coba untuk tidak netral karena Anda sudah disumpah dan jalankan secara konsisten,” ujar Soedarmo saat berkunjung ke Kantor Panwaslih Aceh, Jumat, 4 November 2016.
Soedarmo meminta seluruh jajaran panwaslih baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota tidak memihak salah satu calon.
Terkait kejadian-kejadian yang merusak suasana demokrasi seperti pembakaran bendera partai dan baliho calon, Soedarmo meminta Panwaslih bekerja sama dengan aparat kepolisian. Semua laporan yang masuk kepada Panwaslih, harus diproses secepatnya.
“Jangan ada laporan yang tidak ditindaklanjuti. Cepat proses (selesaikan) semua masalah yang masuk dan jangan tunda-tunda,” ujar Soedarmo dikutip dari siaran pers diterima portalsatu.com.
Soedarmo menyebutkan, dirinya bersama seluruh aparat keamanan selalu berada di barisan belakang Panwaslih. “Tidak ada lagi intimidasi sekarang. Saya ingin pemilu sukses dan damai,” tegasnya.
Sukses atau tidaknya pemilu, kata Soedarmo, sangat tergantung dari kinerja Panwaslih dan KIP. “Sekarang ini, primadonanya adalah Panwaslih dan KIP. Karena itu, saya minta sekali lagi, kerjalah sesuai track (value)-nya, ujar Soedarmo.
Soedarmo juga meminta seluruh jajaran Panwaslih Aceh berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja menertibkan seluruh atribut kampanye yang dipasang di tempat-tempat terlarang.
Samsul Bahri, Ketua Panwaslih Aceh menyebutkan, pihaknya akan berkomunikasi dengan Satpol PP. Karena, Panwaslih, katanya, tidak punya kewenangan menurunkan alat peraga kampanye, melainkan hanya punya kewenangan memberikan rekomendasi. Ia mengakui banyak alat peraga yang dipasang di tempat terlarang seperti di batang pohon.[](rel)



