SABANG – Pemerintah Kota Sabang membantu petani cengkeh untuk bangkit kembali sehingga akan meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Di Sabang, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan memberikan bantuan bibit cengkeh, pupuk, dan kawat untuk pagar (kebun),” kata Teuku Zulkifli, S.E., M.Sc., salah seorang tokoh masyarakat Sabang, kepada portalsatu.com/, Selasa, 30 Oktober 2018.
Zulkifli menyebutkan, tanah di Sabang sangat cocok untuk tanaman cengkeh, sebab Pulau Weh itu merupakan daerah perbukitan. “Di bidang pertanian yang paling cocok adalah kelapa, cengkeh, pinang, cokelat, sayur-sayuran, dan sebagainya,” katanya.
Dia memperkirakan, dari total luas daratan Sabang, saat ini yang menjadi lahan cengkeh sekitar 10 ribu hektare.
Menurut dia, cengkeh di Sabang pernah mengalami pasang surut. Era tahun 1965 – 1982 adalah masa produksi cengkeh terbesar di Sabang selain di Sinabang. “Waktu itu Sabang masih berstatus Free Port, dan ekspornya dilakukan ke Singapura,” kata Zulkifli.
Zulifli mengatakan, tahun 1985 – 2000-an, cengkeh di Sabang musnah disebabkan hama/penyakit yang misterius. “Batangnya mati, harga murah, petani cengkeh saat itu jatuh miskin, ada yang putus asa dan sebagainya. Tahun 2004, petani pun menanam cengkeh kembali, dan cengkeh Sabang pada 2017 telah panen raya,” katanya.
Pada 2018 petani cengkeh Sabang berharap bisa panen raya kembali. Namun, menurut Zulkifli, saat musim panen biasa harganya hanya sekitar Rp85 ribu perkilogram, sedangkan saat panen raya mencapai Rp125 ribu/kg.
Zulkifli mengatakan, saat panen sudah ada agen-agen yang menampung cengkeh untuk dibawa ke Medan atau Pulau Jawa.
“Sekarang harga cengkeh mahal, harga pinang mahal, jadi semuanya punya prospek. Jika di Sabang dibeli seharga Rp125 ribu perkilo, mungkin saat sampai di Jawa harganya dijual lebih dua kali lipat,” katanya.
Dia mengaku merawat tanaman cengkeh di kebunnya setiap Sabtu dan Minggu, sedangkan pekerjaan utama sehari-harinya sebagai PNS. “Sabang adalah pulau yang dihuni oleh 40 persen penduduknya yang berprofesi sebagai pegawai, selebihnya petani, nelayan, dan sebagainya,” kata Zulkifli.[]




