TAPAKTUAN – Dhamer Syam, menjadi Keuchik Kampung Paya, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan sejak tahun 2013 silam. Saat itu, baru beberapa bulan memanggul jabatan keuchik, ia kemudian terpilih memimpin Forum Keuchik Kecamatan Kluet Utara masa bhakti 2013-2018.
Pria kelahiran 5 Mei 1971 ini dikenal ramah dan rendah hati sehingga mudah bergaul dengan seluruh masyarakat dan para keuchik di Kecamatan Kluet Utara. Lulusan SMA ini dinilai juga mampu membangun koordinasi yang baik dengan pihak Pemkab Aceh Selatan.
Itu sebabnya, Dhamer Syam kembali terpilih menjadi Ketua Forum Keuchik Kabupaten Aceh Selatan masa bhakti 2017-2022, hasil pemilihan awal Maret 2017 lalu di Tapaktuan.
Faktor pendidikan dan kekayaan bukan sebuah jaminan bagi kita untuk bisa berbuat dan mendapatkan kepercayaan khalayak ramai. Namun, lebih dari itu adalah sikap kita yang ramah dan santun, mudah bergaul, mau bekerja keras dan ikhlas serta rendah hati merupakan modal utama meraih kepercayaan publik termasuk kepercayaan atasan, kata Dhamer Syam diwawancarai wartawan di Tapaktuan, Selasa, 14 Maret 2017.
Suami Khairiyah ini mengaku sejak kecil tidak pernah bercita-cita menjadi seorang keuchik atau kepala desa. Namun, ia tak kuasa menolak ketika sebagian besar masyarakat mendorongnya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan keuchik awal tahun 2013. Hasilnya, Dhamer Syam pun terpilih menjadi keuchik.
Setelah resmi dilantik, Dhamer Syam langsung menyusun program prioritas yang harus segera direalisasikan. Salah satunya, memfungsikan kembali kantor keuchik yang sudah lama vakum untuk memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan dari pemerintah desa.
Satu bulan setelah saya dilantik langsung saya benahi supaya dapat menghidupkan kembali kantor keuchik, kata ayah dari Fatmawati (sedang kuliah di UIN Banda Aceh), Nuria Wati (Kelas VI SD) dan Khaida Afrianti (1,5 tahun) ini.
Dalam tahun 2013 itu, pihaknya juga mampu menyelesaikan persoalan sebanyak 65 persen dari keseluruhan jumlah masyarakat Kampung Paya yang belum memiliki Kartu Keluarga (KK) Nasional.
Kami menjalin kerja sama dengan petugas dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Aceh Selatan agar bersedia jemput bola turun langsung ke Kampung Paya. Alhamdulillah, selama beberapa bulan sebanyak 65 persen warga tersebut seluruhnya sudah memiliki KK Nasional, ujar Dhamer Syam.
Upaya jemput bola kembali dilakukan pihaknya saat mengurus keperluan masyarakat yang belum memiliki KTP elektronik dan Akte Kelahiran Anak. Sehingga saat ini, kata Dhamer Syam, seluruh warga desa setempat telah mengantongi identitas kependudukan nasional secara lengkap.
Mengenai dana desa, kata Dhamer Syam, pada alokasi tahun pertama 2015 Desa Kampung Paya mendapat Rp500 juta lebih, tahun 2016 Rp800 juta lebih dan 2017 Rp1 miliar lebih. Menurutnya, fokus penggunaan alokasi dana desa yang telah dikucurkan tersebut untuk pemberdayaan masyarakat, peningkatan pekerjaan infrastruktur dan menunjang roda pemerintahan desa.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan dana desa, seperti untuk menunjang kegiatan persatuan wirit yasin, menunjang kegiatan seni budaya seperti pencak silat, kegiatan tersebut sampai saat ini masih berjalan. Sementara untuk pekerjaan fisik salah satu yang menjadi prioritas adalah pemasangan fasilitas air bersih di mushalla, katanya.
Dhamer Syam mengharapkan agar alokasi dana desa dicairkan tepat pada awal tahun, bukan pertengahan tahun seperti terjadi selama ini. Sebab, jika realisasinya pertengahan tahun seperti selama ini, maka terkendala pada pembuatan atau penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG). Buktinya, sekarang ini seluruh desa di Aceh Selatan belum ada APBG, pembuatan APBG tersebut harus mengacu kepada Peraturan Bupati (Perbup). Sementara untuk Perbup saja sampai sekarang ini belum siap, ungkapnya.
Kendala lainnya, sambung dia, terkait pemahaman masyarakat awam pada awal-awal tahun pertama turunnya dana desa. Sebab pada saat itu, pemahaman masyarakat seolah-olah para keuchik mempergunakan dana desa secara sesuka hati dan semena-mena. Padahal, setiap penggunanaan anggaran harus melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) dusun, kemudian berlanjut Musrenbang desa, Musrenbang kecamatan sampai Musrenbang kabupaten.
Fakta ini merupakan sebuah bukti bahwa keuchik tidak bisa seenaknya mengutak-atik dana desa, tegas Dhamer Syam.
Terkait kepercayaan yang diberikan sebanyak 260 keuchik se-Aceh Selatan yang telah memilihnya sebagai Ketua Forum Keuchik Kabupaten, Dhamer Syam mengaku akan menjawab kepercayaan itu dengan memfokuskan pengembangan dan kemajuan forum tersebut.
Program kerja utama yang segera akan saya wujudkan adalah menjalin kekompakan dan meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar-keuchik seluruh Aceh Selatan. Sehingga jika ada salah seorang keuchik di Aceh Selatan mengalami persoalan atau sedang sakit, maka persoalan atau sakit yang dialami keuchik itu juga harus dirasakan para keuchik lainnya. Artinya, sakit sama kami pikul, senang harus sama juga kami rasakan, pungkasnya.[]






