BANDA ACEH – Setiap daerah, masyarakatnya punya tradisi berbeda-beda di bulan Ramadan. Di Aceh, misalnya banyak tradisi yang masih dijalankan warganya hingga saat ini. Tradisi itu terus dijalankan di Aceh meski generasi kian berganti.

Aceh memang terkenal dengan ajaran Islam, tak heran jika suasana beribadah di tempat ini terasa begitu aman dan nyaman. Sebagai kota yang dijuluki Serambi Mekkah, bulan Ramadan menjadi salah satu momen yang sangat dinantikan di Aceh.

Saat Ramadan berbagai sudut Kota Banda Aceh dan Aceh Besar saat Ramadan dipenuhi pedagang kuliner yang menyediakan kudapan berbuka puasa. Tersedia beberapa jenis makanan yang jarang ditemui di luar bulan suci Ramadan. 

Kuliner enak yang kerap memiliki kelezatan khas saat dinikmati ketika berbuka puasa. Banyak pedagang dadakan yang menjual kuliner tradisional khas Aceh hanya ada di dalam bulan penuh berkah ini. Di luar dari Ramadan, kuliner ini susah dicari.

Berikut ini 5 makanan khas tradisional Aceh yang hanya dapat ditemukan di bulan puasa. Selain bahan-bahannya yang susah dicari, pengolahannya juga harus terampil dan berpengalaman sehingga rasa kelezatan bisa sampai ke pembeli.

1. Sambai Oen Peugaga

Kuliner yang satu ini merupakan lalapan favorit warga Aceh saat Ramadan. Bahan baku makanan ini terdiri dari 44 dedaunan yang tumbuh dan hidup di Aceh. Masyarakat menyakini, oen peugaga merupakan makanan favorit para raja-raja pada masa zaman kerajaan Aceh.

Sambai Oen Peugaga, yang bermakna sambal daun pegagan. Sajian kuliner yang sudah turun temurun dilestarikan. Meski bernama sambal, kuliner ini memiliki kemiripan dengan lalapan urap.

Makanan tradisional ini disantap dengan taburan kelapa parut. Rasanya yang khas, membuat lalapan yang satu ini bak primadona di bulan puasa tiba. Setiap jenis daun yang digunakan dalam meracik Sambai Oen Peugaga memiliki khasiat tersendiri.

Tampilan makanan ini ialah aneka daun dicincang. Di antaranya; daun meulinjo, daun sigeuntot, daun lawah (jarak), daun jeruk perut, daun mengkudu, bunga rebung kala dan aneka lainnya. Semua daun punya khasiat masing-masing untuk menjaga tubuh tetap sehat. 

2. Leumang

Leumang adalah salah satu kuliner khas Aceh yang dibuat dengan beras ketan, dicampur dengan santan kelapa. Makanan ini hanya dapat ditemukan dibeberapa momen saja, seperti pada perayaan hari keagamaan dan bulan suci Ramadan tiba.

Proses pembuatan leumang ini memerlukan waktu hingga seharian, dari proses memasukkan beras ketan ke dalam bambu hingga dilapisi daun pisang, kemudian dibakar dengan arang serta dijaga agar tidak hangus. Di bulan puasa, panganan ini selalu menjadi menu andalan warga Aceh.

Leumang juga ada beberapa varian jenis, ada leumang beras ketan putih, hitam dan leumang ubi. Kuliner ini sangat mudah dijumpai, banyak pedagang musiman yang menjual leumang dipinggir jalan protokol di sore hari menjelang berbuka puasa.

3. Kanji Rumbi

Kuliner ini adalah sejenis bubur dengan dengan citarasa unik, mirip dengan bubur ayam yang dijual di daerah lain. Kanji Rumbi dimasak dengan bahan utama beras dan rempah-rempah sebagai pelengkap rasanya lazimnya kanji rumbi juga dicampur dengan udang dan potongan daging. 

Adapula tambahan lain yang cukup penting bagi makanan ini adalah sayur-sayuran berupa wortel dan kentang yang dipotong dadu dan dimasak bersama rebusan beras ketika memasaknya. Kanji Rumbi ini mudah sekali kita jumpai di gampong-gampong di Aceh pada bulan puasa Ramadan.

Seringnya kanji rumbi banyak disediakan di masjid-masjid secara gratis bagi jamaah untuk berbuka puasa bersama. Proses memasaknya menggunakan kuali berukuran besar. Biasanya bagi orang yang berpuasa menyantap kanji rumbi dipercaya bisa menjaga pencernaan setelah seharian berpuasa.

4. Ie Bu Peudah

Makanan ie bu peudah sudah ada sejak masa kesultanan Aceh. Hingga kini, olahan kuliner leluhur itu masih terjaga di wilayah Aceh, terutama di Kabupaten Aceh Besar. Bubur ini sangat disukai warga Aceh karena dinilai bermanfaat bagi kesehatan.

Ie bu peudah adalah makanan sejenis bubur yang di masak dari berbagai ramuan dan di olah dari 44 macam jenis dedaunan hutan seperti daun peugaga, daun capa, daun tahe, daun muling, daun pepaya, daun jeruk purut, daun sop, dan berbagai jenis daun lainnya. Tentunya daun yang digunakan sebagai bahan dasar ie bu peudah merupakan daun yang muda.

Bahan-bahan tersebut ditumbuk hingga halus menggunakan jeungki. Kemudian, rempah dan dedaunan yang telah halus dicampur beras serta kelapa parut. Cita rasa lada dan jahe membuat bubur sedikit terasa pedas. Maka, takjil tradisional itu disebut dengan ie bu peudah.

5. Boh Rom Rom

Kue berbentuk bola pingpong itu terbuat dari beras ketan merupakan panganan yang mudah dijumpai di Aceh, apalagi di bulan ramadan kue ini sangat diminati oleh masyarakat Aceh untuk sajian berbuka puasa. 

Kudapan sejenis onde-onde ini sangat diminati warga Aceh, saat ramadan hampir setiap rumah menyediakan panganan ini untuk menu buka puasa. Kuliner ini disukai semua jenis usia lantaran bentuknya kenyal dan unik.

Rasanya yang manis dengan isi dalamnya gula merah berpadu dengan parutan kelapa menjadi sensasi sendiri dimulut saat disantap. Apalagi saat gula merahnya pecah, meluber dan nikmatnya benar-benar terasa di lidah.

Makan boh rom-rom memang memiliki sensasi tersendiri. Nah, karena isinya sering muncrat keluar saat digigit, sebagian orang Aceh menyebut nih rom-rom sebagai boh meucoet alias buah muncrat. Kudapan ini banyak dijual dipinggir jalan raya ataupun dipasar takjil Ramadan di Aceh.

Selain beberapa makanan favorit diatas yang hanya ada di bulan suci ramadan, tapi ada pula kue-kue basah yang menjadi idola warga saat berbuka puasa, bedanya kue ini bisa dengan mudah didepat meski di luar bulan puasa. 

Kudapan itu antara lain; kurma, mie caluek, sie reuboh, kuah beulangong, roti samahani, timphan, martabak, canai, kueh adee, apam, dan masih banyak kue dan minuman yang dijual pedagang untuk buka puasa.

Meski di tengah pendemi virus corona (Covid-19) pedagang musiman takjil tetap berjualan. Menjelang ashar beberapa lapak sudah terisi dipinggir ruas jalan protokol. 

Berbagai jenis kuliner dan makanan untuk berbuka puasa di jual. Warga yang lalu lalang rela antri demi mendapatkan takjil yang dicari, fenomena seperti ini lazim terjadi di Aceh bahkan didaerah lain di luar Aceh. Indahnya Ramadan di Aceh.[]