SIGLI – Warga dari tiga Gampong pesisir di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie hingga tiga hari pasca gempa masih belum berani tidur di rumah mereka. Pasalnya, para warga trauma dan takut adanya gempa susulan yang terus terjadi.

 Mereka memilih tidur tempat pengungsian pada malam hari dan siang hari pulang ke rumah masing-masing. Ketakutan mereka ini diakui sejumlah warga yang pernah menjadi korban gempa dan tsunami pada Desember 2004 silam.

Halimah (38), seorang ibu rumah tangga dari Gampong Pasi Langcang Kecamatan Kembang Tanjong, Sabtu, 10 Desember mengaku, sejak gempa Rabu lalu, dirinya sangat takut dan tidak berani tidur di rumah. Dirinya memilih tidur di tempat pengungsian di malam hari.

“Kamoe teumakoet ie laot di-ek lom karena gempa manteng na sampe jinoe (Kami takut akan terjadi tsunami, apalagi gempa masih terasa,” demikian pengakuan  Halimah kepada Menteri Sosial, Kofifah Indar Parawangsa, Sabtu 10 Desember 2016.

Dia menceritakan, pada malam kejadian gempa, dirinya sedang di Meunasah shalat subuh. Di rumah hanya ada anak laki – lakinya sedang tidur. Ketika kejadian gempa rumahnya ambruk dan lantainya terbongkar. Anaknya langsung lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Halimah yang rumahnya rusak berat dan lantainya terbongkar mengaku sangat ketakutan. Meski anakya selamat tetapi dia mengaku tidak berani pulang dan tidur di rumahnya karena masih trauma akan terjadi gempa susulan.

“Kamoe terbayang sabe akan gempa susulan, apalagi kamoe kalheueh meurasakan tsunami 2004 silam,” kisah korban yang mengaku rumah dirinya saat ini merupakan bantuan korban tsunami.[]