BANDA ACEH – Acara “Pertunjukan Teater Tutur Adnan PMTOH Mencipta Bersama Masyarakat” karya sutradara Sulaiman Juned, kembali dilangsungkan di Taman Putroe Phang, Banda Aceh, malam ini, Jumat 27 Mei 2016, pukul 20:00 WIB.

“Pertunjukan ini diawali dengan penjual obat Udin Pelor tampil mengolah ruang parkir dengan menjual obat gatal dengan tatanan artistik memakai lampu petromaks, yang menggambarkan bagaimana pedagang obat mempengaruhi konsumen,” kata Sulaiman Juned, di Banda Aceh, Jumat 27 Mei 2016.

Udin Pelor, kata dia, merupakan salah seorang generasi di bawah Teungku Adnan PMTOH yang kerap berjualan obat keliling secara bersama. Dalam pementasan ini Udin Pelor selain berjualan obat menceritakan penggalan-penggalan ingatannya bersama Teungku Adnan PMTOH ketika masih berpofesi sama.

“Udin Pelor dalam bimbingan dengan tim promotor dilakukan halaman parkir Taman Putroe Phang, kemudian dilanjutkan di ruang Gazebo yang tertata dengan pencahayaan lampu general,” kata Sulaiman Juned.

Selanjutnya, kata dia, tampil penghikayat Rasyidin yang menyampaikan pesan melalui teater tutur bukan berdasarkan mitologi tetapi berangkat dari realitas sosial tentang anak-anak miskin di daerah terpencil yang ingin bersekolah. 

Setelah itu, kata Sulaiman Juned, tampil penghikayat Muda Balia di ruang Gazebo yang kedua dengan pencahayaan memakai lampu general. Ia, katanya, setia menjaga dan merawat tradisi lisan yang diturunkan gurunya Zulkifli, dan Zulkifli yang juga murid dari troubador Mat Lape, gurunya Adnan PMTOH.

“Selanjutnya di ruang Arena juga memakai lampu general (Par) sebagai pencahayaan muncul tukang Ca’e Samsul Bahri. Anak kandung Teungku Adnan  PM TOH ini sangat berbeda, sebab memiliki gaya menuturkan Ca’e untuk menyampaikan pesan-pesan moralitas (transformasi nilai moral) dan seni tutur ini menjadi media dakwah dengan menampilkan pertunjukan yang menceritakan tentang kaidah-kaidah pelaksanaan syariat,” kata Sulaiman Juned.

Sedangkan di panggung terapung berlatarkan Pinto Khop tampil pelaku teater Teuku Afifuddin bukan seni gaya tuturnya yang menjadi utama.  Namun ekspresi tubuh, gerak yang berangkat dari lokalitas ke-Aceh-an seperti Seudati, Didong  dan Guel. 

“Melalui proyektor dipancarkan beberapa penggalan pertunjukan Teater Tutur Tengku Adnan PMTOH semasa hidupnya, serta penggalan riwayat hidupnya melalui film dokumenter,” kata Sulaiman.

Sulaiman Juned mengatakan, dari pertunjukan post festival yang berangkat dari spirit teater tutur Aceh, melalui “Pertunjukan Teater Tutur Adnan PM TOH” dirinya berharap bukan saja melahirkan seorang akademisi seni. Tetapi juga konsep dan rumusan yang dapat menjadi representasi terhadap masa depan teater modern Indonesia.

“Aceh memiliki teater yang perkembangannya cukup signifikan, mulai dari teater tradisional, modern hingga kontemporer. Namun perkembangan tersebut tetap berpijak pada budaya Aceh dalam proses kreatif berteaternya,” kata Sulaiman Juned.

Acara ini dilaksanakan dalam rangka pemenuhan ujian akhir Program Doktoral (S-3) Penciptaan Seni Teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Acara kali ini, lanjutan dari 14 Maret 2016 lalu di tempat yang sama, Taman Putroe Phang.[]