LHOKSUKON – Seminar Hasil Kajian Sebaran Batu Nisan Samudra Pasai yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara melalui UPTD Museum Islam Samudra Pasai bekerja sama dengan Centre for Information of Samudra Pasai Heritage (Cisah) di Lhokseumawe menghasilkan rekomendasi berisi lima poin.
Lima poin tersebut, yakni Batu nisan Samudra Pasai adalah benda cagar budaya yang harus dilestarikan; Menjadikan batu nisan Samudra Pasai sebagai bagian terpenting dalam penulisan sejarah Islam Samudra Pasai; Menjadikan landasan pengetahuan sebaran batu nisan Samudra Pasai sebagai informasi tentang pola tata ruang permukiman masa lampau.
Berikutnya, Melakukan penelitian, pelacakan, pendataan, kajian lebih aktif dan kreatif oleh kalangan edukasi menjadi pelaksana utama; dan Batu nisan Samudra Pasai termasuk bagian dari warisan budaya dunia yang dicatat UNESCO.
Surat rekomendasi seminar Hasil Kajian Sebaran Batu Nisan Samudra Pasai itu ditandatangani lima perwakilan peserta, dua pemateri, dan mengetahui/disetujui Kabid Kebudayaan Disdikbud Aceh Utara.
Diberitakan sebelumnya, Disdikbud Aceh Utara melalui UPTD Museum Islam Samudra Pasai bekerja sama dengan Cisah menggelar seminar Hasil Kajian Sebaran Batu Nisan Samudra Pasai, di Hotel Lido Graha Lhokseumawe, Sabtu, 14 Agustus 2021. Kegiatan tersebut diikuti para guru sejarah, mahasiswa Antropologi, sejarawan, pimpinan dayah, dan kepala sekolah, dengan menerapkan protokol kesehatan.
Adapun narasumber atau pemateri seminar tersebut, yaitu Peneliti Sejarah Islam (Epigraf), Tgk. Taqiyuddin Muhammad, dan Peneliti Cisah, Mizuar Mahdi. Seminar itu dipandu Kepala Museum Islam Samudra Pasai, Nurliana NA.
Nurliana NA menjelaskan seminar ini dilatar belakangi oleh pentingnya mengetahui dan menganalisa informasi apa yang disampaikan dari masa lalu melalui tinggalan arkeologis yang sudah beratus tahun dan masih bisa disaksikan hingga saat ini. “Kemudian bagaimana informasi yang sangat penting itu untuk kita hadirkan sebagai nilai yang memberi kekuatan pada identitas dan jati diri masyarakat Aceh terutama masyarakat Aceh Utara,” ujarnya.
“Batu nisan berinskripsi yang luar biasa menjelaskan tentang tokoh-tokoh masa Kerajaan Samudra Pasai, beserta sebarannya menjadi bukti sejarah kegemilangan Islam di Nusantara bahkan Asia Tenggara,” tambah Nurliana.
Wakil Ketua Cisah, Sukarna Putra, mengatakan seminar Hasil Kajian Sebaran Batu Nisan Samudra Pasai juga bertujuan melahirkan sebuah rekomendasi tentang batu nisan tinggalan kerajaan Islam tersebut yang bisa dijadikan sumber terpenting dalam penelusuran dan penulisan sejarah.
“Makanya yang diundang menjadi peserta seminar ini adalah para guru sejarah, mahasiswa Antropologi, sejarawan, pimpinan dayah, dan aktivis, yang semua itu merupakan agen perubahan dalam penyampaian metodelogi secara ilmiah,” ujar Sukarna Putra.[](*)





