Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaNewsIni Sebab Calon...

Ini Sebab Calon Independen Tidak Muncul di Pilkada Singkil

SINGKIL – Pesta demokrasi yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Februari 2017 sudah dipastikan tanpa kandidat independen (perseorangan) pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Singkil.

Tidak adanya calon non partai maju menimbulkan tanya tanya di masyarakat, mengingat Pilkada 2012 lalu terdapat sejumlah calon perseorangan turut memeriahkan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Pemerhati sosial dan politik dari LSM Aceh Future Wilayah Singkil dan Kota Subulussalam, Farida Solin kepada portalsatu.com, Jumat 19 Agustus 2016 mengatakan ada beberapa faktor menyebabkan tidak muncul calon perseorangan di Pilkada Singkil, padahal di daerah itu terdapat banyak putra dan putri terbaik dinilai mampu pemimpin Aceh Singkil ke depan.

Padahal, kata Farida, pada Pilkada Singkil 2012 terdapat 10 pasangan calon bupati dan wakil bupati dan lima di antaranya maju melalui jalur independen, sehingga pesta demokrasi lima tahun silam berlangsung meriah.

“Namun kondisi hari ini tidak satupun dari independen, padahal undang-undang memberi ruang kepada seseorang yang ingin maju melalui jalur non partai,” ungkap Farida.

Ia mengatakan kondisi ini terjadi bisa saja karena calon penantang melihat peluang menang melawan incumbent Bupati Aceh Singkil Safriadi atau yang akrab disapa Oyon sulit dikalahkan.

Hal ini disebabkan Oyon masih sangat kuat secara politik dan kuat secara finansial. Sehingga calon kandidat harus berpikir seribu kali sebelum mengambil keputusan maju jalur perseorangan.

“Saya kira ada banyak calon yang ingin maju, namun mereka sudah menyerah sebelum bertarung,” ungkap Farida.

Farida mengamati proses pemilihan kepala daerah maupun pemilu legislatif beberapa tahun belakangan ini sudah menciptakan budaya tidak sehat di masyarakat dengan ada indikasi dugaan politik uang untuk menang.

Akibatnya masyarakat pragmatis dalam memilih seseorang, siapa memberi akan dipilih, yang tidak jangan harap untuk menang. “Kondisi ini sudah menjadi budaya di tengah-tengah masyarakat ketika pemilu maupun pilkada,” ujarnya.

Farida mengatakan orientasi pemilih bukan kepada sosok kandidat yang dinilai layak, namun lebih kepada siapa yang paling besar memberikan imbalan, maka akan dipilih.

“Tidak semua memang, namun kebanyakan sudah berpikir uang saat pilkada. Ini akibat kondisi yang diciptakan sebelumnya, sehingga masyarakat menjadi terbiasa,” pungkasnya.

Farida sangat menyayangkan kondisi yang terjadi saat ini, dampak akibat politik uang, pemimpin terpilih bukan sosok yang dianggap mampu karena latar belakang pendidikan, pengalaman di bidang politik dan birokrasi atau prestasi lainnya.

“Kondisi inilah saya kira menjadi penyebab tidak muncul calon dari perseorangan,” demikian Farida Solin.[]

Laporan Sudirman

Baca juga: