BANDA ACEH – Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, M. Rizal Falevi Kirani, menyayangkan adanya penolakan terhadap petugas medis yang merawat pasien virus corona RSUDZA Banda Aceh, saat pulang ke rumah mereka.
“Kita sangat menyayangkan. Itukan bisa dibicarakan, tidak harus dengan usir dan kasar,” kata Falevi Kirani saat dihubungi portalsatu.com, Kamis, 9 April 2020.
Menurut Falevi, masyarakat mesti memahami posisi paramedis yang menjadi garda terdepan dalam manangani pasien virus corona. Seharusnya, kata dia, semua pihak memberi apresiasi kepada tenaga medis tersebut.
“Paling tidak kita menghargai bahwa itu sebuah pekerjaan yang mulia, sehingga petugas medis itu harus kita apresiasi pekerjaan mereka,” ujar politikus Partai Nanggroe Aceh (PNA) itu.
Falevi menyebut Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) bukanlah aib, tapi wabah yang harus dicegah penyebarannya. “Saya pikir karena kita masyarakat punya adab dan sopan santun, maka kita hargai pekerjaan mereka (paramedis). Karena, virus corona bukan penyakit aib, tapi wabah yang harus kita perangi bersama-sama,” ucapnya.
Pemerintah daerah, kata Falevi, mesti memberikan sosialisasi secara maksimal terkait Covid-19 kepada masyarakat. Hal ini supaya masyarakat teredukasi dengan baik tentang pencegahan dan penyebaran Covid-19 di lingkungannya masing-masing.
“Saya pikir Pemerintah Aceh serta pemerintah kabupaten/kota mesti memberikan edukasi kepada masyarakat. Kemudian terhadap paramedis, kita minta pemerintah memberikan apresiasi dan bonus,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, penolakan terhadap petugas medis Covid-19 oleh warga tidak hanya terjadi di beberapa daerah lain. Tim medis di Aceh yang menangani pasien pandemi ini juga dilaporkan mendapat penolakan serupa dari warga saat pulang ke kediamannya.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, Safrizal Rahman membenarkan, tenaga medis ditolak warga saat pulang ke rumahnya. Kejadian penolakan tersebut terjadi di Banda Aceh. Namun, Safrizal tak merinci nama desa tersebut.
“Benar ada beberapa tenaga medis yang lapor ke kita, terutama mereka yang merawat pasien Covid-19 dan masih lajang. Itu diminta untuk tidak pulang ke rumah (kos),” kata Safrizal Rahman, saat dikonfirmasi portalsatu.com/, Selasa, 7 April 2020.
Lebih lanjut, Safrizal meminta masyarakat untuk memahami bahwa tenaga medis sangat diperhatikan kesehatannya. Jika mereka sakit atau bergejala, maka akan diperiksa dan kemudian dirawat. Safrizal mengibaratkan seorang tentara, jika sakit maka ia orang pertama yang diobati agar bisa berperang kembali.
“Karena kita tahu itu modal kita. Jadi kalau mereka diizinkan pulang, Insya Allah mereka kita yakini tanpa gejala, sehat-sehat saja. Tidak usah khawatir, kasihan mereka sudah bertaruh nyawa menyelamatkan orang lain terus tidak bisa pulang ke rumah, itu kan kasihan,” jelasnya.[]




