BANDA ACEH – Masyarakat Aceh Peduli Rohingya yang sebelumnya berorasi di Simpang Lima, Banda Aceh, menuntut untuk dihentikannya pembantaian umat Islam Rohingya di Myanmar, kemudian bergeser menuju Vihara Dharma Bhakti, Peunayong, Banda Aceh. Aksi ini sengaja dilakukan dengan tujuan agar semua pemuka agama ikut berteriak dan melaksanakan kegiatan maupun pengecaman seperti yang mereka lakukan saat ini. 

“Kita juga berharap seluruh elemen agama bukan nama Islam tetapi juga Budha, Kristen, dan ikut juga bergabung,” kata Michael, Senin, 4 September 2017.

Michael menjelaskan, aksi mereka di salah satu vihara di Kota Banda Aceh tersebut sebagai bukti bahwa umat Budha di Aceh yang merupakan minoritas tetap aman dan nyaman meski di berada di daerah syariat Islam.

“Di mana pun umat Islam mayoritas, minoritas tidak akan terganggu, tetapi bila kita melihat di belahan dunia manapun pasti selalu menjadi tindakan kekerasan yang dilakukan. Inilah bentuk dari sebuah bangsa Indonesia yang luar biasa dan merupakan contoh bagi dunia internasional,” katanya lagi.

Meskipun aksi dilakukan di tempat peribadatan umat Budha, mereka tidak serta merta menyalahkan semua biksu maupun pemimpin agama tersebut di dunia atas kasus yang menimpa Rohingya di Myanmar.

“Apalagi yang nyata dan jelas, umat Buddha yang melakukan, yakni biksu di Myanmar. Bukan biksu di seluruh dunia,” katanya.

Sehubungan dengan itu, Michael mengatakan sangat mengapresiasi apabila gubernur, wakil gubernur dan juga pimpinan dewan juga berteriak untuk ini.

“Ini sudah terjadi berulang kali dan dunia seakan-akan tidak bisa mencegah,” katanya.

Sebelumnya, saat melakukan orasi di Simpang Lima, Masyarakat Aceh Peduli Rohingya meminta dicabutnya nobel perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi serta mengutuk keras rezim militer dan sipil Myanmar untuk menghentikan kekerasan dan genosida pada etnis.[]