BANDA ACEH – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman) Aceh memberi pelatihan handycraft (kerajinan tangan) gratis untuk 15 ibu rumah tangga (IRT) keluarga duafa di Gampong Emperom, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.

Sesi pertama pelatihan gratis tersebut digelar pada 27 Oktober 2018 lalu dengan materi yang menghasilkan tiga produk. Yaitu, bros mawar, bros pita dan tempat pentul. Ketiga produk itu menggunakan bahan baku limbah atau barang barang bekas. Sedangkan pada 1 November 2018, para peserta diajarkan cara membuat produk Ruman’s Handicraft lainnya. Yaitu, dompet makeup dari kain limbah jahitan yang telah dikumpulkan dari beberapa penjahit di seputaran Kota Banda Aceh.

Kegiatan berlangsung di rumah salah seorang peserta itu diisi oleh Bendahara PKBM Ruman Aceh, Rizky Sopya, S.Pd., yang telah mewakili Aceh dalam ajang “Apresiasi GTK PAUD & DIKMAS Nasional” di Pontianak, Kalimantan Barat pada Juli 2018 lalu.

“Pelatihan ini sengaja dibuat di rumah salah seorang peserta agar memudahkan bagi peserta lainnya. Sebab, beberapa di antara mereka tidak punya alat transportasi. Jika pun punya, sedang digunakan oleh suami untuk mencari nafkah,” ungkap Rizky.

Rizky melanjutkan, pelatihan ini mempunyai dua tujuan utama. Pertama, membekali para peserta dengan keterampilan tangan yang sederhana, tapi bernilai ekonomis positif. Kedua, para peserta akan mengisi waktu luang mereka di rumah dengan kegiatan produktif yang dapat membantu perekonomian keluarga masing-masing.

“Kita akan memfasilitasi mereka untuk mendapatkan pesanan, setelah mereka betul-betul mahir. Insya Allah kita akan support mereka dalam hal quality control dan marketing,” ujar Ummi Kiki, panggilan sehari-hari Rizky.

Ketua PKBM Ruman Aceh, Ahmad Arif, mengatakan pemberdayaan perempuan, kursus keterampilan dan pendampingan sosial kemasyarakatan merupakan tiga dari enam program utama yang dilakukan pihaknya sejak lima tahun lalu.

“Kita pernah mengadakan lima gelombang kursus menjahit secara gratis. Melatih handicraft buat ratusan anak yatim binaan salah satu lembaga penyantun yatim, juga puluhan santriwati pesantren dari Medan,” tutur Arif.

PKBM Ruman Aceh pernah menerima orderan 2000 bros untuk suvenir pernikahan. Lalu, ada pesanan 1000 tempat pentul yang dirangkai dari kaleng bekas dan 700 dompet kosmetik yang dikemas dari kain limbah jahitan.

“Yang terbaru, tim PKBM Ruman Aceh mengerjakan pesanan seratusan celemek anak dari salah satu sekolah sebagai suvenir perpisahan murid mereka,” ujar Arif.[](rel)