SUBULUSSALAM – Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kota Subulussalam menyatakan prihatin melihat budaya lokal dan kesenian daerah mulai terkikis seiring perkembangan zaman.
“DKA ada, tapi tidak jalan, karena tidak didukung operasional secara memadai,” kata Ketua DKA Kota Subulussalam, Ugot Pinem kepada portalsatu.com, Jumat, 22 Juli 2016 menjawab pertanyaan wartawan terkait kondisi kesenian dan budaya lokal di daerah itu.
Ugot mengakui DKA memang memiliki peran penting terkait maju atau tidaknya kesenian suatu daerah. Namun apabila tidak didukung dengan dana untuk melakukan kegiatan pembinaan, semua bisa sia-sia.
Ia berharap keberadaan DKA tidak sekadar simbol saja, namun harus diperhatikan secara menyeluruh mulai dari sekretariat, dana operasional dan uang pembinaan.
Meski sangat terbatas dengan dana, Ugot Pinem bersama pengurus DKA Subulussalam terus berupaya semampu mereka seperti mengajak masyarakat supaya mempertahankan budaya lokal.
“Sebab jika ini tidak dilakukan, ke depan kesenian daerah hilang, masuklah budaya barat, itu bukan tradisi kita orang Aceh, ini yang saya khawatirkan,” ungkap Ugot.
Beberapa kesenian daerah yang masih eksis di Kota Subulussalam seperti Tari Dampeng dan Musik Gambus Lae Souraya. Dampeng kerap ditampilkan pada kegiatan tertentu seperti penyambutan tamu terhormat, sementara Musik Gambus pada acara pesta perkawinan atau sunat rasul.[]
Laporan Sudirman

