BANDA ACEH – Perkumpulan Majelis Seniman Aceh (MaSA) menggelar acara berbuka puasa bersama di Nagita Resto, Banda Aceh, Rabu 11 Maret 2026/21 Ramadan 1447 H.
Kegiatan berbuka puasa bersama bertema “Meudoa Selamat keu Kaum Muslimin” tersebut berlangsung dalam keramahtamahan dengan berbagai rangkaian mata acara.
Ada sekira delapan puluhan seniman dari lintas generasi dan lintas profesi hadir pada sore itu. Terlihat pula seniman legendaris Udin Pelor.
Seorang seniman berbakat sekaligus jurnalis, Subur Dani, naik ke panggung memandu acara ramah tamah sebelum berbuka puasa bersama berlangsung.
Sebagai pertunjukan seni, Zulfikar Kirbi tampil membacakan puisi yang memiliki makna mendalam.
Setelah itu, Ustaz Ivan tampil menyampaikan tausiah tentang pentingnya menjaga silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan keseharian.
Ketua Umum Majelis Seniman Aceh, Chairiyan Ramli, dalam sambutannya menyampaikan, selain untuk mengeratkan silaturahmi, acara berbuka puasa bersama ini diharapkan menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan antar seniman Aceh.
Kata Chairiyan, seni menjadi bahasa yang mampu menyatukan rakyat. Melalui acara tersebut, dia berharap pihaknya dapat terus menjaga kebersamaan serta memberikan faedah yang baik bagi sesama.
“Bulan lalu, MaSA juga telah menyalurkan bantuan di masa pemulihan bencana terhadap kelompok seni yang terdampak musibah banjir di Aceh Utara,” kata Chairiyan.
Sementara Ketua Panitia, Syekh Ghazali LKB, mengatakan, acara tersebut dilaksanakan dengan dukungan sesama seniman, untuk mempertahankan silaturahmi dan kebersamaan kita yang telah terjalin baik selama ini.
“Kegiatan ini untuk mengeratkan silaturrahmi dalam kebersamaan dan doa untuk keselamatan umat Islam di seluruh dunia. Semoga kebersamaan ini terus berlanjut dan semakin erat. Semoga saudara kita yang menderita segera mendapatkan pertolongan,” kata Syekh Ghazali.
Sebelum berbuka puasa, acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan doa Bersama. Hal itu mencerminkan semangat kebersamaan serta harapan supaya para seniman di Aceh terus berkarya juga menjadi bagian dari pembangunan budaya yang Islami dan berkelanjutan.

Usai berbuka puasa dan salat Magrib, panitia memberikan cendera mata kepada hadirin yang memakai ija krong (kain sarung) terbaik. Hadiah yang disponsori oleh Nurul Akmal tersebut diberikan kepada Chairiyan Ramli, M Zaini, Mahdalena, dan Tommy.
“Memakai ija krong adalah budaya Aceh, maka panitia menganjurkan supaya hadirin mamakai ija krong saat ke acara ini. Sebagai rasa terima kasih, kita menyediakan hadiah bagi yang berpenampilan terbaik dengan ija kong,” kata Syekh Ghazali yang juga Bendahara Umum Majelis Seniman Aceh.[]






