Erdogan mengecam penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 50 orang, seraya mengutip sejarah Gallipoli pada Perang Dunia I.

Melansir kumparan.com, dalam perang tersebut lebih dari seabad lalu, lebih dari 130 ribu tentara Korps Pasukan Selandia Baru dan Australia (ANZAC) tewas ketika hendak mencapai pantai Gallipoli. Sejak saat itu setiap 25 April diperingati sebagai Hari ANZAC.

Erdogan mengatakan, peristiwa Gallipoli dan penembakan masjid Christchurch punya motif yang sama: anti-Islam. “Ada urusan apa kalian datang ke sini? Kami tidak ada masalah dengan kalian, mengapa kalian datang jauh-jauh ke sini? Satu-satunya alasan: Kami Muslim, dan mereka Kristen,” kata Erdogan dalam pidato di Provinsi Canakkale, 19 Maret 2019, seperti dikutip Associated Press.

“Jika Selandia Baru gagal menghukum pelaku penembakan, dengan satu dan lain hal kami yang akan menghukumnya,” lanjut Erdogan lagi.

Erdogan mengancam siapapun yang memiliki sentimen anti-Islam dan memasuki Turki, maka nasibnya akan sama seperti tentara ANZAC. “Kakek-kakek kalian datang ke sini dan mereka pulang dalam peti mati. Tidak diragukan lagi kami akan mengirim kalian pulang seperti kakek kalian,” kata Erdogan. (BacaPidato Erdogan Soal Christchurch Resahkan Selandia Baru dan Australia)

Kisah pertempuran Gallipoli

Melansir kompas.com8 Januari 1916 merupakan hari yang akan tercatat dalam sejarah kemiliteran dunia ketika pasukan Sekutu meninggalkan pesisir Gallipoli di Turki.

Penarikan mundur ini sekaligus menandai kegagalan invasi Sekutu untuk menumbangkan Kekaisaran Ottoman dengan korban 250.000 tentara Sekutu tewas atau terluka.

Meski sukses menggagalkan invasi Sekutu, tentara Kekaisaran Ottoman juga mengalami kerugian cukup besar dan nyaris sama dengan kerugian yang ditanggung Sekutu.

Pada awal 1915, pemerintah Inggris memutuskan untuk menyerang Turki agar meringankan beban Rusia di garis depan sisi timur di Pegunungan Kaukasus.

Cara untuk membantu Rusia itu adalah dengan menguasai Selat Dardanella, Semenanjung Gallipoli, dan lalu Istanbul yang merupakan wilayah Turki.

Dari Istanbul, menurut rencana Inggris, Sekutu akan memiliki peluang menekan pasukan Austria-Hungaria dan memaksa pasukan Poros Tengah memecah kekuatan militernya di front barat.

Menteri Angkatan Laut Inggris saat itu Winston Churchill amat mendukung rencana militer ini. Dan pada Februari 1915, kapal-kapal perang Inggris dan Perancis mulai membombardir posisi Turki di Dardanella.

Namun, cuaca buruk mengganggu jalannya operasi militer dan pada 18 Maret 1915, enam kapal perang Inggris dan empat kapal Perancis bergerak menuju Dardanella.

Sementara itu, saat pengeboman Sekutu berhenti karena cuaca buruk justru memberi keuntungan bagi Turki. Pasukan Turki memasang ratusan ranjau di perairan Selat Dardanella yang menenggelamkan tiga kapal Sekutu dan mengakibatkan tiga lainnya rusak berat.

Akhirnya, Sekutu membatalkan serangan laut dan sebuah invasi ke darat secara besar-besaran direncanakan.

Pada 25 April 1915, pasukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru mendarat di Semenanjung Gallipoli. Sementara pasukan Perancis mendarat di seberang Gallipoli untuk memecah perhatian pasukan Turki.

Namun, pasukan Turki yang dipimpin Kemal Ataturk sukses menghancurkan pendaratan pasukan Australia dan Selandia Baru.

Sedangkan pasukan Inggris juga menghadapi perlawanan sengit saat mendarat di Semenanjung Helles. Bahkan korban yang jatuh di pihak Inggris mencapai dua pertiga jumlah pasukan.

Selama tiga bulan berikutnya, pasukan Sekutu hanya membuat sedikit kemajuan yang dibayar dengan jumlah korban yang amat besar.

Untuk memecahkan kebuntuan, Inggris mendaratkan pasukan baru di Teluk Suva pada 6 Agustus 1915. Namun, Inggris juga mengalami kegagalan meski saat mendarat tak mendapat banyak perlawanan.

Sebab, pasukan Inggris menunggu terlalu lama di pantai dan bukannya langsung masuk ke pedalaman. Alhasil, Turki bisa mendatangkan bala bantuan dan dengan cepat menghentikan gerak maju pasukan Inggris.

Tak bisa maju, pasukan Inggris menggali parit dan hanya mendapat kemajuan hingga beberapa kilometer saja.

Pada September 1915, komandan pasukan Inggris, Sir Ian Hamilton digantikan Sir Charles Monro yang pada Desember merekomendasikan penarikan mundur pasukan dari Gallipoli.

Usulan Sir Charles Monro itu akhirnya diterima dan pada Januari 1916 evakuasi pasukan Sekutu dilakukan.

Kampanye militer yang gagal total itu memakan korban lain yaitu Winston Churchill yang mundur dari jabatannya dan menerima penugasan untuk menangani sebuah batalion infantri di Perancis.[]Sumber: kumparan.com / kompas.com