BANDA ACEH – Tiga mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditahan di penjara Songkhla, Thailand sejak lebih 10 tahun silam, dilaporkan telah dibebaskan pada akhir Agustus lalu. Tiga ekskombatan itu kabarnya mendapat amnesti dari Raja Thailand.

Dikutip dari Wikipedia.org, Paduka Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej atau dikenal sebagai Raja Rama IX adalah Raja Thailand sejak 9 Juni 1946. Anggota Dinasti Chakri ini menjadi raja sejak usia 19 tahun.

Lahir 5 Desember 1927, Bhumibol adalah penggemar musik jazz dan lagu kontemporer. Pria yang juga gemar fotografi dan mengarang atau menerjemahkan ini dikenal pula sebagai seorang atlet berlayar dan memperoleh medali emas dalam Asian Games tahun 1967 di Manila, Filipina.

Dikutip dari liputan6.com, nama Bhumibol Adulyadej berarti ‘Kekuatan Menguasai Lahan yang Tak Tertandingi’. Tak heran, Raja Bhumibol Adulyadej memang tak tertandingi, terbukti dengan masa jabatannya yang panjang di Thailand.

Selain itu, Raja Bhumibol merupakan raja terkaya di dunia dengan harta sebesar US$ 30 miliar (Rp 325,4 triliun).

Awal Juni lalu, rakyat Thailand merayakan 70 tahun bertakhtanya Raja Bhumibol. Penguasa Negeri Gajah Putih itu telah berusia 88 tahun lebih. Ia merupakan penguasa kerajaan terlama yang masih hidup. Namun, Bhumibol tidak tampil ke muka umum saat perayaan akbar tersebut.

Dikutip dari okezone.com, Raja Bhumibol baru saja menjalani operasi jantung pada 7 Juni lalu untuk membersihkan pembuluh darahnya. Biro Rumah Tangga Kerajaan mengumumkan bahwa operasi tersebut berlangsung dengan sukses.

Terakhir kali Bhumibol terlihat di muka umum pada Desember 2015 ketika ia memarahi sejumlah hakim di Rumah Sakit Bangkok. Selama enam tahun terakhir Raja Bhumibol menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tersebut.

Setelah berkuasa selama 70 tahun, rakyat Thailand masih menganggap Raja Bhumibol sebagai tonggak kestabilan negeri.

“Hubungan antara rakyat Thailand dan rajanya sangat dalam, sehingga sangat sulit dijelaskan. Dia adalah bapak negeri ini,” kata Kolonel Winthai Suvaree, juru bicara pemerintah junta militer kepada Reuters, seperti dikutip kompas.com, 9 Juni 2016.

“Dia (raja) mengunjungi seluruh pelosok negeri dan bertemu rakyat. Dia mendengarkan dan menyelesaikan masalah kami sehingga kami sangat mencintai dia,” kata Yaovapha Thaitae, penjual mi di dekat rumah sakit tempat Raja Bhumibol dirawat.

Kali ini, keputusan bijaksana Raja Thailand turut menghiasi berita-berita media nasional dan media lokal di Aceh.  Raja Thailand disebut telah memberi pengampunan atau penghapusan hukuman kepada tiga mantan gerilyawan GAM, sehingga mereka kini dibebaskan. Mereka adalah Syarifuddin Saleh alias Tekong, Ruliansyah alias Pangki, Muhammad Zainal alias Komputer.

“Amnesti itu diberikan oleh raja, pengampunan oleh raja. Kami lalu melapor ke Pak JK, dan di situ Pak JK mengambil peran melakukan lobi diplomatik antarnegara,” ujar Fahmi Mada, salah seorang anggota Tim Kompatriot Aceh, dilansir kompas.com, 4 September 2016.

JK ialah Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang disebut berperan penting dalam pembebasan tiga eks-GAM tersebut. “Ini lobi diplomatik G to G (goverment to goverment),” kata Fahmi.

Selain Fahmi, anggota Tim Kompatriot lainnya ialah Mahyuddin Adan, Islamuddin Ismadi, dan Ifdhal Kasim. Mulanya, tim tersebut dijadwalkan akan menjemput tiga ekskombatan GAM ke Thailand, Senin, pagi tadi.  Namun, rencana itu terpaksa diundur sampai besok/Selasa.

“Ada perubahan jadwal di Imigrasi Thailand sehingga tim baru berangkat besok pagi,” kata Ifdhal Kasim. (Baca: Penjemputan 3 Eks-GAM ke Thailand Tertunda)[] (idg)