MEDAN – Wakil Direktur Polair Polda Sumatera Utara, AKBP Untung Sangaji, menciptakan dan mengolah limbah kerang menjadi batu bata, yang dapat dijadikan bahan baku untuk membangun rumah maupun bangunan serupa lainnya.

Untung Sangaji menggunakan limbah kerang tersebut untuk dijadikan batako, sehingga proses plaster lebih menghemat biaya.

“Proses pembuatan batako ini sangat mudah dan sederhana, bahan bakunya digunakan dari fosil kerang laut, semen, dan cetakan yang dibikin sendiri dari besi yang kemudian dipasang kunci, ukurannya bisa dibuat seperti batu bata pada umumnya. Selanjutnya, limbah kerang yang telah dipecahkan lalu dicuci dengan bersih dan dikeringkan. Setelah kering (limbah kerang) diaduk dengan semen dan diberi sedikit air, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Kekita sudah padat, lalu dijemur di bawah sinar matahari dengan batas waktu maksimal dua hari untuk menunggu proses pengeringan supaya batako itu lebih keras dan padat,” kata Untung Sangaji kepada portalsatu.com/, di kediamannya di Medan, Sumatera Utara, Senin, 24 Desember 2018, sore.

Mantan Kapolres Aceh Utara itu menambahkan, setelah batako itu mengering secara keseluruhan, itu bisa dilakukan pengecatan sesuai selera. Tentunya seni ini tanpa harus mengeluarkan biaya mahal. Untuk jenis kerang yang digunakan itu bervariasi dan sangat mudah didapatkan di sepanjang pesisir pantai, atau bisa juga diperoleh dari warung makan yang menyediakan menu kerang rebus. Dari fosil kerang yang dibuang tersebut bisa dimanfaatkan untuk proses pembuatan batako. 

Menurut Untung Sangaji, proses pembuatan ini belum banyak diketahui orang. Praktek ini dilakukan sebagai percontohan supaya masyarakat dapat memanfaatkan limbah kerang untuk bahan bangunan rumah maupun hal serupa lainnya, dan dapat menghemat pengeluaran biaya karena sangat sederhana.

“Saya yakin, apabila masyarakat  memanfaatkan ini tentu sangat menguntungkan dan bisa dijadikan usaha yang menjanjikan karena sangat ekonomis. Artinya, bisa mendapatkan pendapatan tambahan bagi masyarakat yang tinggal di pesisir,” ujarnya.

Untung Sangaji mengaku ide pengolahan limbah kerang itu pertama kali muncul ketika ia berada di Pelabuhan Belawan melihat antara nelayan yang menggunakan kapal trawl dan kapal tradisional sedang ada persilihan mengenai pendapatan ikan. “Sehingga saya langsung turun ke laut mengambil limbah kerang itu menunjukkan kepada mereka (nelayan), ini (limbah kerang) juga bisa dihasilkan uang apabila diolah dengan baik. Saya ingin menunjukkan bahwa pendapatan nelayan tidak hanya mesti terpaku pada tangkapan ikan semata. Dari limbah yang ada juga dapat dikelola secara ekonomis,” ungkap Untung Sangaji.

Untung Sangaji berharap inovasi itu dapat berguna bagi masyarakat dan para nelayan untuk mendaur ulang limbah tersebut. Juga bisa dijadikan pekerjaan sampingan selain menjadi nelayan. “Saya di samping bertugas, juga ingin menularkan inovasi-inovasi baru kepada masyarakat dan semoga bermanfaat,” ujarnya.[]