BANDA ACEH – Perusahaan investasi Prosperity Indonesia berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 250-300 Megawatt di Krueng Teunom, Aceh Jaya, serta PLTA Tampur berkapasitas 428 Megawatt di antara Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Gayo Lues. Rencana investasi ini disampaikan Denise dari Prosperity Indonesia dan Rosi Malia SH dari PT Seunagan Energy di Pendopo Gubernur, Banda Aceh, Rabu, 8 Juni 2016.

Rosi mengatakan, PLTA Tampur merupakan PLTA terbesar di Indonesia yang juga berfungsi sebagai penahan banjir di kawasan Kecamatan Manyak Payet, Banda Mulia, Seruway dan Aceh Tamiang pada setiap tahunnya. “PLTA yang akan kita bangun juga akan bermanfaat kepada warga sekitar dengan lahan pekerjaan yang tersedia dan berfungsi untuk mengontrol irigasi pertanian, walaupun di musim kemarau. Ia juga akan menjadi objek wisata yang menarik bagi pengunjung untuk menyaksikan betapa indahnya permadangan di sekitar projek ini,” kata Rosi Malia SH dari PT Seunagan Energy.

Menurut Rosi, pihaknya masih dalam tahap pengurusan dokuman AMDAL dan Feasibility Study (FS) yang direncanakan akan rampung pada tahun ini. Terkait dengan permasalahan perizinan, dirinya akan berkerjasama dengan Pemerintah Aceh untuk memastikan opsi yang terbaik mengingat sebagian dari lokasi pembangunan proyek tersebut berada dalam kawasan hutan lindung.

Menyikapi hal ini, Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, menyambut baik rencana PT Teunom Jaya Energy untuk membangun PLTA di Krueng Teunom, Kabupaten Aceh Jaya.

“Pada prisipnya kita sangat mendukung keterlibatan pihak swasta dan investor lainnya untuk menggarap potensi sumber energi listrik yang terbarukan di Aceh,” katanya.

Gubernur mengatakan dengan adanya PLTA Teunom, target Aceh untuk mandiri dari pasokan listrik dari luar Aceh dapat segera terpenuhi. “Jika ini berhasil dilaksanakan, Aceh bukan saja akan bebas dari krisis listrik, malah kita akan mengalami surplus listrik,” katanya.

Menurutnya hal ini juga dapat dilihat sebagai sumbangan Aceh dalam merealisasikan program nasional untuk penyediaan listrik sebesar 35 ribu Megawatt dalam jangka waktu 5 tahun (2014-2019) di seluruh Indonesia. Gubernur Zaini mengatakan Aceh mempunyai sumber daya alam yang melimpah untuk menghasilkan energi listrik. Namun masih sangat sedikit investor yang ingin menanamkan modal di bidang ini. 

“Kehadiran PLTA yang berkapasitas besar ini mampu mendoronng tumbuhnya pusat-pusat industri baru yang dapat meningkatkan perekonomian, dan taraf hidup masyarakat Aceh,” ujarnya.

Dengan kapasitas energi yang dihasilkan sebesar 250 hingga 300 Megawatt, PLTA tersebut diharapkan dapat mengundang para investor lainnya agar memanfaatkan ketersediaan listrik itu untuk industri. “Pengembangan industri di Aceh sangat bergantung pada stabilnya persediaan listrik yang merata di seluruh daerah,” katanya.

Dia turut merujuk pembangunan jalan tol Trans Sumatra di Aceh yang dinilai akan memudahkan para pengusaha melakukan aktivitas bisnis mereka dengan lancar. Menurutnya dengan ketersediaan listrik yang mencukupi dan adanya infrastruktur yang memadai seperti jalan tol akan memacu pertumbuhan ekonomi di Aceh, serta mengurangi angka pengangguran dengan tumbuhnya industri.

Dalam menjalankan kegiatannya, Gubernur Zaini juga meminta kepada perusahaan agar memberdayakan sumber daya manusia (SDM) lokal yang ada untuk menghindari terjadinya konflik sosial di wilayah operasi.

Seperti diketahui, Aceh memiliki beberapa pembangkit listrik yang pernah digadang-gadang bakal mencukupi kebutuhan pasokan energi di daerah ini. Di antara pembangkit listrik yang dimaksud adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya, pembangkit listrik di Lueng Bata, PLTMG Arun, dan PLTA Peusangan. Pembangkit listrik yang disebutkan terakhir, hingga sekarang masih terbentur dengan pembebasan lahan. Sementara PLTMG Arun pernah mandeg akibat kekurangan pasokan gas beberapa waktu lalu. PLTMG ini kemudian diresmikan kembali oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

Selain itu, Aceh juga memiliki pilot project pembangkit listrik tenaga kincir angin di Krueng Raya. Keberadaan beberapa pembangkit tersebut pada awal pembangunannya kerap dijagokan bakal mencukupi kebutuhan arus listrik di Aceh. Namun dengan kondisi tersebut, PT PLN Aceh dinilai belum mampu mengoptimalkan ketersediaan arus listrik di daerah ini terutama pada saat beban puncak. 

General Manager (GM) PT PLN Wilayah Aceh, Bob Saril bahkan tidak dapat memastikan soal kapan listrik tak akan padam lagi. Ia pernah menjawab pertanyaan terkait hal itu dengan sarat canda saat ditemui awak media seusai acara kunjungan kerja DPRA di Kantor PT PLN Aceh, di Banda Aceh, Rabu, 30 Maret 2016 lalu.

“Kapan listrik tidak mati? Itu sama dengan pertanyaan kapan manusia tidak mati?”.

Menurut Bob, persolan listrik sangat rumit sebab ada gangguan yang kadang tidak bisa diprediksi sehingga terjadi pemadaman.

“Kita akan terus berusaha agar listrik tidak padam lagi, tapi tetap saja ada waktu tertentu yang memang harus padam,” kata Bob.

Bob mengatakan, negara-negara di Eropa juga tak lepas dari krisis listrik dan terjadi pemadaman. “Negara maju di Eropa juga ada pemadaman,” kata Bob.[](bna)