BANDA ACEH – Irwandi Yusuf mengaku sejak jauh hari lalu telah mempertimbangkan dua kemungkinan untuk maju kembali sebagai bakal calon Gubernur Aceh pada pilkada 2017. Dua kemungkinan tersebut adalah diusung partai nasional atau maju melalui jalur independen (perseorangan). Dia akhirnya menggunakan kendaraan partai setelah keluar surat rekomendasi Partai Demokrat akhir pekan lalu.

“Untuk maju di pilkada 2017, saya menggunakan semua kemungkinan, baik maju jalur partai nasional atau independen,” kata Irwandi Yusuf dalam konferensi pers di kediamannya di Banda Aceh, Sabtu, 6 Agustus 2016, terkait proses pencalonan dirinya menuju pilkada 2017.

Irwandi menjelaskan, jika dirinya disuruh memilih, ia berkeinginan maju melalui jalur independen. “Karena melalui jalur tersebut kita akan menang secara ‘jantan’. Tetapi dalam politik tidak cukup dengan ‘jantan’ saja. Jadi, ada plus minus-nya lah,” ujarnya.

Itu sebabnya, Irwandi memilih jalur partai nasional (parnas). Dia menyebut awalnya ada dua parnas yang terlihat sangat berminat. “Yang pertama Demokrat, kedua Golkar. Demokrat yang pertama menghubungi dan kemudian Golkar,” kata Irwandi.

“Kedua partai ini (sebelum Partai Demokrat memastikan sikap) terkendala dengan internal partai. Tidak terlaksananya rapat majelis tinggi untuk memutuskan siapa yang akan mereka usung di pilkada mendatang. Golkar sendiri masih ada keraguan atau pertimbangan. Akhirnya siapa yang duluan mengumukan, itu yang saya sambut,” ujar dia lagi.

Seperti diketahui, Irwandi melanjutkan, dari dua parnas itu yang telah resmi mengumumkan sikapnya adalah Partai Demokrat. Pada 4 Agustus 2016, kata dia, Partai Demokrat mengadakan rapat dengan majelis tinggi dan langsung mengeluarkan surat rekomendasi. “Akhirnya Demokrat serius mengusung saya pada pilkada 2017,” katanya.

Menurut Irwandi, kini jumlah kursi sebagai syarat untuk dirinya maju melalui partai sudah cukup, yaitu 13 kursi (PNA 3 kursi, Partai Demokrat 8 kursi, PDA dan PKB masing-masing 1 kursi).

Irwandi menambahkan, kemungkinan akan ada penambahan partai pengusung/pendukungnya. Saat ini, dia masih melobi Partai Golkar. “Awalnya ada kesepakatan ‘kalau Demokrat mengusung, maka Golkar akan mendukung, begitu juga sebaliknya’,” ujarnya.

Dia turut memaparkan pertimbangan dirinya memilih berpasangan dengan Nova Iriansyah, setelah muncul keputusan Partai Demokrat untuk mengusungnya. Pertimbangan itu antara lain karena Nova saat ini Ketua DPD Partai Demokrat Aceh dan memiliki banyak jaringan.

“Di samping itu cukup berilmu dan punya gagasan yang baik. Di Aceh (Nova), seperti fotokopi diri saya. Saya dan Nova sudah lama kenal dan sudah mengetahui kelebihan masing-masing,” kata Irwandi.[] (idg)