PIDIE – Jenazah Zainal Arifin, 22 tahun, disambut dengan suasana duka oleh pihak keluarga dan para tetangga, saat tiba di kampung halamannya, di Paloh Jeureula, Kecamatan Sakti, Pidie, Kamis, 9 November 2017, sekira pukul 00.30 WIB.

Pantauan portalsatu.com/, warga setempat telah ramai di rumah almarhum, sebelum jenazahnya yang dibawa dari Banda Aceh tiba. Bahkan sebagian pemuda sudah menunggu di perbatasan lorong desa tersebut.

Ibu korban, Nurma, 45 tahun, hanya terdiam dan terlihat lemas dengan raut wajah yang sembab, sesekali menghapus air matanya, saat melihat peti jenazah anaknya tiba di rumah. Meskipun demikian, sang ibu tetap ikhlas, dengan apa yang terjadi pada anaknya.

Selain itu, beberapa warga juga terlihat meneteskan air mata ketika jenazah baru diturunkan dari mobil ambulans.

Zainal yang bekerja sebagai pemasang alat pendingin ruangan (AC) di Malaysia, diketahui meninggal dunia pada Senin, 6 November 2017, lalu, sekira pukul 14.00 WIB  atau 15.00 waktu setempat. Penyebab kematiannya diduga tersengat arus listrik, saat memasang AC di sebuah gedung di Negeri Sembilan, Taman Gunung Mas, Malaysia.

Jenazah Zainal tiba di Aceh sekira pukul 21.13 WIB, dengan menggunakan pesawat Garuda dari Jakarta, dijemput langsung oleh Kepala Dinas Sosial Aceh Alhudri bersama rombongan di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, kemudian diantarkan ke rumah duka, di Pidie. Sebelum itu, jenazah telah diberangkatkan dari Malaysia ke Jakarta, sekira pukul 11.30 WIB atau 12.30 waktu Malaysia.

Saat serah terima jenazah dengan pihak keluarga, Alhudri menyampaikan, bahwa jenazah sebenarnya tiba di Aceh pukul 16.00 WIB. Namun, karena satu dan lain hal, maka baru bisa tiba di Aceh pukul 21.13 WIB.

“Saya juga harus menyampaikan, bahwa jenazah ini sudah difardhu kifayahkan, jika keluarga ingin menyalatkannya kembali silahkan saja,” kata Alhudri, saat berada di rumah duka, Kamis, 9 November 2017.

Mewakili Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, dirinya mengaku prihatin dengan semakin banyaknya anak Aceh yang menjadi korban di negeri jiran. Zainal Arifin, dikatakannya merupakan salah satu kasus dari beberapa kasus yang terjadi belakangan ini.

“Di negeri sendiri kita bekerja dan juga bisa berkumpul dengan keluarga dan sanak famili sementara di negeri orang, beginilah nasibnya,” katanya.

Melihat beberapa kejadian yang ada, Alhudri menghimbau kepada masyarakat Aceh, agar tak perlu mencari kerja di luar negeri, karena di Aceh masih tersedia lapangan kerja yang terbilang cukup.

Meskipun demikian, dia tidak bisa menahan hak seseorang, karena diakuinya bahwa bekerja di mana saja merupakan hak setiap orang. Akan tetapi dia meminta, bagi warga Aceh yang ingin bekerja keluar negeri, untuk melengkapi dokumen resmi, sehingga tidak menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sudirman atau biasa dikenal Haji Uma, Alhudri menegaskan, bahwa agen atau calo yang memberangkatkan almarhum semasa hidupnya di Malaysia, untuk bertanggung jawab dan memenuhi hak-haknya. Dia menegaskan, bahwa semua ini dikarenakan bujuk rayu para agen kepada anak muda di Aceh.

“Dalam minggu ini, ada TKI Aceh tabrakan di Peneng, ada yang ditembak dan terakhir almarhum ini. Kami miris melihat ini, kami percaya beliau adalah fisabilillah. Untuk itu, kami dari Pemerintah Aceh ikut belasungkawa, dan Pak Irwandi menitip salam kepada pihak keluarga dan perangkat gampong semua,” jelas Alhudri.

Selaku orangtua almarhum, Nurma merasa terharu dengan sikap Pemerintah Aceh dan Haji Uma yang telah mengantarkan langsung jenazah anaknya ke rumahnya, “Saya sangat berterimakasih kepada Kepala Dinas dan Haji Uma,” ungkapnya.[]