Catatan kecil ini mungkin hanya sebagai uneg saja: Refleksi personal, bahwa pernyataan Menteri Agama (Pak Yaqut) tentang “visi” Beliau perihal agama sebagai sumber inspirasi menjadi dialektika baru yang “segar”. Walau ia tidak menisbatkan agama apa yang dimaksud.
Ini semacam penguatan tentang moderasi agama yang sering didengungkan. Dan mengeliminir kerancuan “radikalisasi” yang sering dicap untuk sekelompok muslim.
Sejatinya, kalimat “agama sebagai sumber inspirasi” bagai payung bagi minoritas kaum beragama yang sering merasa diabaikan.
Disini, menteri agama selalu ingin menjadi penyeimbang dari realitas sosiologis bernegara kita. Bahkan kadang, “takut” bila disebut sebagai representatif agama Islam. Menteri Agama selalu ingin jadi fasilitator dan mediator, sekaligus (mungkin) juru bicara negara atas nama rezim (partai pendukung).
Sehingga pandangan ini seakan mengaburkan “realitas” Agama Islam yang menjadi mayoritas, seakan minoritas selalu merasa terancam dan dilindungi. Jalan tengah” yang diperankan menteri Agama yang muslim, sering disalah-artikan sebagai pengikisan eksistensi (akidah Islam).
Sebab, redaksi “Liyuzhirahu 'Aladdini Kullih”(ayat Alquran), Islam datang untuk mengungguli agama lain (dengan sistemnya yang lengkap), tak bisa (dengan berani dan gagah) digunakan konteksnya oleh menteri Agama.
Seakan-akan, bila agama sebagai sumber inspirasi, bisa saja semua agama itu diyakini benar dan berpeluang benar, sehingga klaim kebenaran agama seakan menjadi relatif.
Padahal, Islam dengan sejarah dan keautentikan ajarannya akan melampaui inspirasi apapun. Inspirasi yang muncul dari dari agama Islam hendaknya satu ruh/pengertian, walau interpretasinya bisa berbeda selama dalam rujukan yang mu'tabar: bukan semata menjunjung tinggi kebebasan”.[]
*Peminat literasi pendidikan Islam.
Ikatan Dai Indonesia.



