Korea Utara mengadakan pawai militer ketika menandai ulang tahun ke-70 pendirian negara itu, 9 September 2018 lalu. Saat pawai tersebut, puluhan kendaraan militer dan tentara ditampilkan di jalan-jalan ibu kota Korea Utara.

Pawai militer Korut ini merupakan pertunjukan besar kedua kekuatan militer tahun ini menyusul prosesi yang sama pada bulan Februari 2018 silam.

Namun yang membedakannya adalah, pawai pada hari tersebut tidak menampilkan rudal balistik yang katanya disiapkan untuk menargetkan Amerika Serikat.

Namun pada 11 November 2018, Angkatan Udara China untuk pertama kalinya memperkenalkan rudal-rudal balistik tersebut. Dalam parade udara Zhuhai, nama event tersebut, Angkatan Udara China terlihat menerbangkan rudal balistik bermesin kembar, J-20.

J-20 adalah ‘balasan’ China atas rudal balistik AS, F-22 dan F-35.

Sebuah laporan dari China Power Project di Pusat Studi Strategis dan Internasional menjelaskan, J-20 adalah kunci kekuatan China. Selain itu, J-20 juga merupakan lawan yang sepadan dengan armada udara AS.

Keunggulan J-20 antara lain ada tanker pengisian bahan bakar udara, memiliki peringatan dini terhadap lawan, dan dipersenjatai dengan misil jarak jauh udara ke udara.

Seakan tidak mau hanya mengumbar ucapan, Angkatan China benar-benar menunjukkan kemampuan J-20 pada hari Minggu kemarin.

Karena penampilan keren tersebut, J-20 menjadi pembicaraan hangat di semua media. Seperti Xinhua, media asal China, yang mendeskripsikan J-20 sebagai “rudal yang memukau”. Sebab selain pada parade udara tersebut, J-20 juga ditampilan dalam hari terakhir Airshow China.

Dalam sebuah video Xinhua, dua buah J-20 mengaung di kerumunan besar di Airshow China.

Dengan pintu terbuka, mereka menunjukkan empat rudal jarak jauh yang terpasang di dalamnya. Bahkan, ada dua rudal yang juga dipasang di bawah sayap pesawat.

Ahli militer China, Song Zongping, mengatakan J-20 akan menjadi salah satu jet tempur masa depan dan bisa bersaing dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, di masa lalu hanya AS dan sekutunya seperti Jepang yang mampu mempersenjatai jet tempur. Tapi sekarang, monopoli mereka di wilayah ini telah dipatahkan oleh J-20.

Kini dengan kedatangan J-20, Korut akan mengubah keseimbangan kekuatan udara di kawasan Asia-Pasifik.

Analisis lain tentang J-20 adalah, dia merupakan jet tempur generasi keempat yang tampaknya didukung oleh mesin Rusia daripada mesin buatan China.

“Tidak ada mesin buatan China pada J-20. Ini bukti bahwa China masih mengalami kesulitan menguasai teknologi mesin jet terkemuka,” kata Peter Layton, mantan perwira militer Australia dan sekarang sesama di Griffith Asia Institute.

Penulis: Mentari Desiani Pramudita.[]Sumber: intisari.grid.id