Buku keduanya, Islam at the Cross Roads, diterbitkan dua tahun kemudian. Seorang sejarawan di Universitas Punjab di Lahore, Muhammad Arshad, menyebut munculnya buku ini membuat riak gelombang di masyarakat.
“Sungguh luar biasa melihat seorang warga Eropa mengkritik masyarakat barat, membela Islam dan Sunnah dan mengatakan bahwa hanya Islam yang dapat membimbing dunia keluar dari kegelapan,” kata dia.
Hingga buku ini hadir, hampir tidak ada orang yang mencoba mengkontekstualisasikan ketidaksukaan abadi Eropa terhadap Islam. Ini adalah tulisan orang Eropa kulit putih dalam bahasa Inggris, yang menyebut Muslim tidak boleh terpesona oleh kemajuan materi barat.
Hadirnya buku ini bersamaan dengan masa ketika sebagian besar Muslim di dunia masih hidup di bawah semacam pemerintahan kolonial. Asad menyebut jangan berkecil hati dengan kemelaratan, karena perlu seribu tahun bagi Khilafah untuk runtuh, sedangkan kekaisaran Romawi lenyap dalam seratus tahun.
“Jika kita mengikuti prinsip Islam yang mewajibkan belajar dan pengetahuan pada setiap pria dan wanita Muslim, kita tidak harus melihat ke Barat hari ini untuk memperoleh ilmu pengetahuan modern,” tulisnya.
Asad segera mendapatkan pengagum di antara tokoh-tokoh Muslim terkemuka, seperti penyair dan filsuf Allama Iqbal, ulama Abul Ala Maududi dan Sayyid Qutb. Dalam bukunya yang terkenal, The Social Justice in Islam, ia menyebut satu bab sebagai At the Crossroads.
Pada pertengahan 1930-an, Asad secara aktif mengambil bagian dalam berbagai proyek yang bertujuan meningkatkan cara pendidikan agama diberikan. Ia juga berupaya menemukan cara untuk memperkenalkan mata pelajaran sains bersamaan dengan topik klasik di lembaga-lembaga Islam.
Sekitar waktu ini, ia mengambil tugas monumental menerjemahkan Sahih Bukhari, kumpulan ucapan Nabi Muhammad. Ini adalah pekerjaan yang sulit, yang melibatkan kegiatan membaca dengan cermat dan memilah-milah ribuan catatan sejarah.
“Pada saat itu, belum ada yang mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Itu adalah usaha yang sangat besar,” kata Arshad.
Namun malang, dia tidak dapat menyelesaikan terjemahan itu. Banyak manuskripnya hilang selama pemisahan India dan Pakistan pada 1947.[]Sumber:republika.co.id from





