Oleh: Taufik Sentana*

Slogan yang terbaca penulis di salah satu media menyebutkan, Jalan Tol menjadi simbol era menuju Aceh Maju. Ya, Tol Aceh termasuk dalam Trans Sumatera, terusannya dan seksinya akan sampai ke kota Binjai Medan, bahkan sampai ke Lampung, lebih dari 2000 km.

Peresmiannya telah selesai hari ini oleh bapak Presiden kita, Joko Widodo. Ruas tol ini akan menghubungkan Banda Aceh-Sigli. Soal pembebasan tanah, agaknya pak presiden memuji penyelesaiannya yang cepat. Menurut catatan Wikipedia, sekitar 400 T lebih investasi yang dibutuhkan, yang diantaranya dikerjakan oleh PT Hutama Karya. Masih dalam catatan yang sama, 85% dana tersebut berupa ekuitas, atau kepemilikan saham, sedangkan 15%lagi adalah utang.

Dari segi motif ekonomi, (akan selalu begitu), Trans Sumatera dianggap berpotensi  rendah dalam rate returnnya, namun tetap potensial dalam membangun iklim ekonomi masyarakat pada level tertentu, semisal efisiensi waktu dan keamanan.

Penulis belum mendapatkan data tentang “nilai saham” pemerintah Aceh dalam proyek stretegis nasional ini. Sebab, dari sini kita bisa menilai, jalan tol ini milik siapa?, untuk siapa saja, dan kapan akan menjadi “milik kita” (setidaknya berbayar murah).

Dari amatan penulis dan laporan beberapa teman yang menikmati tol baru di ruas Medan- Deli Serdang, harganya sangat mahal /km. Menurutnya, layanan tol itu akan digunakannya khusus saat terdesak saja, uangnya bisa dihemat untuk keperluan BBM.

Hal lainnya, tentang kepemilikan tadi, karena masih bersifat pengembalian modal dsb, serta pengembalian utang, setidaknya perlu jangka waktu 15 sd 25 ke depan barulah Tol Aceh ini dan Trans Sumatera menjadi milik kita (“rakyat”). Ini berkaca dari, misalnya jalan tol Belawan-Medan, yang sudah lunas utang ke Jepang (25 th, sejak 1990an), tapi masih tetap belum jadi milik umum dan masih berbayar serta semakin minim perawatan.

Semoga Tol Aceh ini benar benar dapat berfungsi sebagai percepatan kemajuan Aceh ke depan.[]

*Peminat studi sosial, perkotaan dan budaya urban.