TAKENGON — Jamur akar dan hama kutu loncat menjadi ancaman bagi kopi Arabika di dataran tinggi Gayo. Akibatnya produksi kopi dinilai mulai menyusut. Pertahun diprediksi hasil panen petani kopi Arabika Gayo hanya berjumlah 600-700 kilogram perhektar. Angka ini jauh meleset dari target 1.500 kilogram perhektar.

Tanaman kopi yang diserang jenis hama itu akan menjadikan daun dan buah kopi tidak berkualitas. Pada buah dan daun juga kerap bercak putih, berlendir, menghitam dan akhirnya pohon kopi akan mati.

Anggota DPR RI asal Gayo, Tagore Abu Bakar, turut prihatin dengan kondisi itu. Ia juga meminta agar pemerintah daerah segera turun tangan guna membasmi hama yang selama ini menyerang kopi petani Gayo.

Terlebih katanya, Gayo merupakan penghasil kopi terbaik dengan areal perkebunan kopi terluas di tanah air, yang mencapai 94.800 hektare. Areal itu tersebar di Aceh Tengah sekitar 48.000 ha, 7.800 ha di Kabupaten Gayo Lues dan Bener Meriah 39.000 ha.

“Kondisi ini tentu akan berpengaruh pada pendapatan masyarakat di Gayo yang mayoritas petani kopi,” kata Tagor dalam pertemuan bersama awak media di warkop Sahabat Baru, Kota Takengon, Senin, 13 November 2017.

Ia juga menilai pentingnya satu lembaga khusus yang menangani persoalan kopi didirikan di wilayah tengah Aceh.[]