Oleh: Taufik Sentana*
Disebut masyarakat karena di dalamnya ada ikatan, persetalian, “musyarakah”. Dalam makna ini, masyarakat bukan semata kumpulan orang orang dan lembaga lembaga antropologis. Kesemuanya mesti berpadu dalam satu tujuan, satu asas, satu kepemimpinan.
Di dalam ikatan itulah kesemuanya saling memengaruhi. Misal, pembangunan fisik masyarakatnya, mesti menilik kepentingan anak anak kecil dalam kebutuhan untuk tempat bermain, lahan terbuka, udara dan lainnya. Sebab, pada waktunya nanti, anak anak kecil itu akan mengadopsi semua pengalamannya dan mengolahnya sesuai pandangannya kemudian.
Umumnya, kita terjebak pada slogan, seperti “Hebat”, “Maju” dan “Unggul”. Namun ianya hanya terpatri di atas meja birokrasi, poster dan baliho. Tak ada yang merasa perlu mengukur kesadaran itu dan pengaruhnya pada aktivitas masyarakat. Seakan, pemerintah dengan logika politiknya sendiri dan masyarakat dengan pikirannya sendiri pula, sedangkan di luar itu, alam sekitar dan instrument sosial-budaya dengan tarikannya sendiri, tergantung moment dan kepentingan kita.
Sehingga dalam pola di atas pula, masyarakat kita, kehidupan kita digempur oleh nilai nilai global, paham paham yang berseberangan dari nilai dasar lokal kita. Pendidikan kita yang paling mutakhirpun seakan terikat dengan kepentingan industri dan citra global. Para lulusannya (SDM ) dianggap sebagai faktor” produksi. Sedang idealnya, mereka adalah aset produktif, modal sosial yang Utama: dengan keyakinan,pikiran dan kreatifitas.
Maka keresahan kita kemudian adalah, diantaranya, ketidaksiapan kita sebagai produsen. dan kita terlena dengan terus menjadi konsumen. Sehingga sulit memilih keutamaan dalam bersikap. Kita cenderung latah, mengikuti trend semata dan terjebak dalam kesenangan yang melenakan.
Dampakya kemudian, akan mengendurkan pilar masyarakat kita. Rapuhlah Kekuatannya. Rusaklah tumpuannya. Banyaklah terjadi kekacauan, penyimpangan sosial (judi, zina dsb).
Maka, Ikatannya mesti disatukan kembali, dan butuh waktu. Pemerintah dan penguasa bisa menjadi katalisator, penggerak dan pengontrol sistem sosial. Sedang masyarakat umumnya, menjaga sikap saling tawashau bil haq, saling mengingatkan dan menguatkan dengan landasan kebenaran, dengan menggunakan ragam cara dan media.[]
*Peminat studi sosial budaya.



