BLANGKEJEREN – Harga kopi dan minyak serai wangi di Kabupaten Gayo Lues masih belum stabil. Para petani di kaki hutan Leuser itu berharap ada terobosan baru pemerintah daerah agar kedua komoditas unggulan tersebut kembali bisa diekspor dengan jumlah banyak.
Aman Jon, petani kopi di Kecamatan Blangkejeren, Kamis, 5 Nopember 2020, mengatakan saat ini hampir semua kebun kopi milik masyarakat Gayo Lues sedang banjir buah masak atau masuk musim panen raya. Akan tetapi harganya yang tidak bersahabat membuat petani tertekan.
“Musim panen tahun ini buah kopi di Gayo Lues sangat bagus dan banyak. Mungkin jika dihitung total, hasil panen tahun ini bisa lebih banyak dua kali lipat dari tahun kemarin. Namun yang menjadi persoalan harganya turun setengah dari tahun lalu,” kata Aman.
Aman menjelaskan harga gabah kopi yang dijual petani tahun 2019 mencapai Rp 35 ribu hingga Rp 38 ribu per bambu. Namun harga gabah kopi di tahun 2020 ini hanya Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per bambu.
“Mudah-mudahan setelah isu virus korona ini mereda, harga gabah kopi kembali stabil seperti tahun lalu, setidaknya Rp 30 ribu saja kami sudah bahagia. Dan kepada pemerintah daerah, mohon dicarikan pemasarannya, karena kopi di Gayo Lues pasti bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun,” pintanya.

[Proses penyulingan minyak serai wangi di Gayo Lues menggunakan kayu bakar. Foto: Win Porang]
Amut, petani serai wangi di Kecamatan Blangpegayon mengatakan harga saat ini sangat jauh dari harapan masyarakat. Jika dikalkulasikan antara biaya proses penyulingan dengan harga jual, petani serai wangi hanya mendapat capeknya saja.
“Harga yang dibeli tauke saat ini naik turun, mulai dari Rp 162 ribu hingga Rp 165 ribu per kg. Harga sekarang ini jauh selisih dengan tahun 2019 sebelum ada wabah virus korona. Tahun lalu harga per kg minyak serai wangi mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu,” katanya.
Amut berharap wabah virus korona segera usai dan kehidupan kembali normal. Sehingga harga komoditas ekspor Gayo Lues kembali membaik dan masyarakat bisa menjual hasil pertaniannya seperti tahun-tahun sebelumnya.
Amin Tujung, salah satu penampung minyak serai wangi di Kecamatan Kotapanjang mengatakan hari ini ia membeli dari petani hanya Rp 162 ribu per kg, dan harga tersebut bisa berubah-ubah setiap harinya.
“Harga minyak serai wangi yang kami beli dari petani tergantung dengan harga yang ditampung tauke di luar daerah. Jika tauke di luar daerah membeli mahal, otomatis kami juga membeli dengan harga mahal, tapi jika harga yang dibeli tauke rendah, kami juga terpaksa membeli dengan harga rendah,” jelasnya.
Menurut Amin, harga minyak serai wangi di Kabupaten Gayo Lues mulai turun sebelum muncul wabah virus korona. Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia menyebabkan permintaan minyak serai wangi berkurang.
“Jadi ada beberapa alasan yang menyebabkan harga minyak serai wangi turun dari harga tahun-tahun lalu. Mulai dari daya tampung minyak serai wangi hanya sebatas lokal, permintaan minyak serai wangi oleh pihak luar daerah sangat menurun, dan faktor global dari iklim dunia,” tutur Amin.[]





