TAHUKAH Anda, hari ini Banda Aceh telah berusia 812 tahun?
Hari Jadi Kota Banda Aceh adalah tanggal 1 Ramadhan 601 H, hari Jumat bertepatan dengan 22 April 1205 M. Tanggal ini didasarkan kepada permulaan pemerintahan Sultan Alaidin Johan Syah, seperti yang termaktub dalam naskah 'Adat Aceh', demikian bunyi salah satu poin Kesimpulan Seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh.
Berdasarkan buku Kota Banda Aceh Hampir 1000 tahun, diterbitkan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh tahun 1988, diperoleh portalsatu.com, 22 April 2017, dari acehbooks.org, seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh itu diselenggarakan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh pada 26-28 Maret 1988 di Banda Aceh.
Kesimpulan Seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh itu ditandatangani panitia pengarah seminar, yaitu Prof. A. Hasjmy (ketua), Drs. Zakaria Ahmad (sekretaris) dan para anggota: Drs. Muhammad Ibrahim, Drs. M. Gade Ismail, M.A., Drs. Rusdi Sufi, Drs. Nasruddin Sulaiman, dan Tuanku Abdul Jalil tanggal 28 Maret 1988. Seminar tersebut menampilkan sejumlah tokoh penting termasuk para pakar sejarah.
Banda Aceh sebagai Ibu Kota Kerajaan Aceh telah berperan dalam menghubungkan umat Islam Asia Tenggara; kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan agama, penyebaran aliran-aliran yang tumbuh dalam dunia Islam, ketaatan penduduknya serta kemajuan dalam bidang dakwah telah menyebabkan Aceh digelar Serambi Mekkah, bunyi salah satu poin Peranan Banda Aceh dalam Perjalanan Sejarah, dikutip dari Kesimpulan Seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh tersebut.
Berikut kesimpulan seminar itu:
Kesimpulan Seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh
Bismillahirrahmanirrahim
Seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh pada tanggal 26 sampai dengan tanggal 28 Maret 1988 di Banda Aceh.
Mendengar:
1. Pidato pengarahan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh;
2. Pidato sambutan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Banda Aceh.
Membaca dan Membahas:
1. Pidato pengarahan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh :
2. Pidato sambutan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Banda Aceh.
Membaca dan Membahas:
1. Prasaran-prasaran:
a. Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh yang disampaikan Prof. A. Hasjmy (Ketua Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh); Prof. DR. Teuku Iskandar (University Brunai Darussalam); Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh), tentang HARI JADI KOTA BANDA ACEH;
b. Prof. DR. Ibrahim Alfian, MA. Dekan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada tentang BANDA ACEH SEBAGAI PUSAT AWAL PERANG DI JALAN ALLAH;
c. Prof. DR. Hasan Muarrif Ambary MA (Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional); Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Istimewa Aceh yang disampaikan Drs. T. Alamsyah tentang BANDA ACEH SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN DAN TAMADDUN;
d. Masyarakat Sejarahwan Indonesia Daerah Istimewa Aceh yang disampaikan Drs. Zakaria Achmad (Ketua Masyarakat Sejarahwan Indonesia Daerah Istimewa Aceh); H. Mohd. Said yang disampaikan Drs. Anas Mahmud; Teungku Luckman Sinar SH; tentang BANDA ACEH SEBAGAI PUSAT PEMERINTAHAN KESULTANAN ACEH;
e. Universitas Syiah Kuala yang disampaikan DR. M. Isa Sulaiman, tentang BANDA ACEH DALAM SIKLUS PERDAGANGAN INTERNASIONAL;
f. IAIN Jamiah Arraniry yang disampaikan Drs. Abdurrahman Kaoy tentang BANDA ACEH SEBAGAI PUSAT DAKWAH ISLAMIYAH;
g. Masyarakat Sejarahwan Indonesia Daerah Istimewa Aceh yang dibawakan Drs. Muhammad Ibrahim (anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia) tentang BANDA ACEH SEBAGAI PUSAT PERLAWANAN TERHADAP IMPERIALISME DAN KOLONIALISME DI KAWASAN SELAT MALAKA:
h. T. Ali Basyah Talsya (Sekretaris Laka) tentang BANDA ACEH PADA MASA KEMERDEKAAN:
2. Bandingan-bandingan:
a. Drs. H. Muhammady MA:
b. Prof. DR. Syamsuddin Mahmud:
c. Drs. Abidin Hasyim M Sc:
d. DR. Safwan Idris, MA:
e. DR. M. Isa Sulaiman:
3. Tanggapan-tanggapan:
Dari peserta seminar baik yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis selama berlangsungnya seminar;
Mengingat:
1. Undang-Undang Nomor 8 (darurat) tahun 1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota-kota Besar Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara Jonto Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1983 Tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;
3. Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Banda Aceh Nomor 05.3.06/09/SK/1988 tanggal 15 Januari 1988 Tentang Pembentukan Panitia Pelaksana Seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh;
Menetapkan Kesimpulan-kesimpulan Seminar Hari Jadi Kota Banda Aceh
I. Hari Jadi
1. Sultan Alaidin Johan Syah yang memerintah dalam tahun 601-631 H (1205-1234 M) adalah pendiri Kerajaan Aceh Darussalam dengan ibukota Banda Aceh Darussalam;
2. Hari Jadi Kota Banda Aceh adalah tanggal 1 Ramadhan 601 H, hari Jum'at bertepatan dengan tgl. 22 April 1205 M. Tanggal ini didasarkan kepada permulaan pemerintahan Sultan Alaidin Johan Syah, seperti yang termaktub dalam naskah 'adat Aceh.'
3. Istana yang didirikan oleh Sultan Alaidin Johan Syah yang merupakan pusat kerajaan bernama Kandang Aceh berlokasi di Kampung Pande;
4. Sultan Alaidin Mahmud Syah yang memerintah dalam tahun 665-708 H (1267 -1309 M) telah memindahkan pusat Kerajaan Aceh dari Kandang ke seberang Krueng Aceh, dan dibangun pusat kerajaan dan istana baru yang diberi nama Kuta Dalam Darud Dunia;
5. Bersamaan dengan pembangunan Kuta Dalam Darud Dunia, Sultan Alaidin Mahmud Syah membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jamik Baiturrahman, yang berfungsi sebagai pusat ibadat, pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan;
II. Peranan Banda Aceh Dalam Perjalanan Sejarah
1. Banda Aceh sebagai pusat Kesultanan Aceh sejak abad ke-16, telah menjelma sebagai salah satu pusat kekuasaan politik di Asia Tenggara/belahan timur dunia;
2. Banda Aceh dengan Masjid Jamik Baiturrahman merupakan pusat Islam (Islamic Centre) telah tampil sebagai kota ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3. Banda Aceh sebagai salah satu kota yang menerima Islam pada priode awal telah tampil sebagai kota dakwah Islamiah terpenting di Asia Tenggara;
4. Banda Aceh sebagai Ibu Kota Kerajaan Aceh telah berperan dalam menghubungkan umat Islam Asia Tenggara; kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan agama, penyebaran aliran-aliran yang tumbuh dalam dunia Islam, ketaatan penduduknya serta kemajuan dalam bidang dakwah telah menyebabkan Aceh digelar Serambi Mekkah;
5. Banda Aceh letaknya strategis pada jalur perdagangan internasional dan kekayaan alam yang melimpah dengan kekuatan politiknya sejak awal abad ke-16 berkembang menjadi salah satu kota perdagangan internasional;
6. Karena Kerajaan Aceh menganut politik pintu terbuka terhadap para pedagang asing, maka Kota Banda Aceh menjadi suatu bandar internasional yang dihuni oleh berbagai bangsa;
7. Ancaman imperialisme sejak pengujung abad ke-15 telah menyebabkan Banda Aceh muncul sebagai pusat kekuatan dan perlawanan yang tangguh;
8. Kecakapan membuat senjata yang diperoleh dari pakar-pakar bangsa Turki dan bangsa-bangsa lainnya, Banda Aceh telah berkembang pula sebagai kota industri perang;
9. Banda Aceh dengan Kuta Dalam Darud Dunia, Taman Gairah, pusat kesenian dan hasil kerajinan rakyat, menjadikan kota ini sebagai kota wisata budaya;
10. Sejak diumumkannya perang oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap Kerajaan Aceh pada tanggal 26 Maret 1873, Banda Aceh tampil sebagai pusat awal perang di jalan Allah melawan penjajah Belanda;
11. Dalam masa revolusi kemerdekaan (1945-1949 M), Banda Aceh tampil sebagai Ibu Kota Daerah Modal Republik Indonesia;
12. Selama pendudukan Belanda, Banda Aceh ikut berperan dalam pergerakan nasional;
13. Dengan peresmian Kopelma Darussalam tanggal 2 September 1959, Banda Aceh telah menjadi salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.[](idg)

