14 tahun sudah perdamaian Aceh. Beberapa waktu lampau seorang pentolan GAM berkeluh kesah.

“Saya tidak menyangka jadi begini. Kawan-kawan yang pascadamai dapat kekuasaan amat menikmati. Mereka kehilangan idealisme perjuangan dan mereka melihat perdamaian sebagai kesempatan dengan berlomba merebut kuasa dan materi,” keluhnya lirih.

 “Biasalah, 'si puntong meuteume jaroe',” sindir saya.

“Itu tamsil tak cocok. Sejumlah orang yang berkuasa pernah bersama Wali lebih 30 tahun, kenapa mereka dengan mudah berubah? Mereka seperti jadi manusia baru. Padahal, semua yang datang kini penuh pengorbanan darah dan air mata rakyat. Kini kenapa mereka lupa pada tujuan,” ucapnya.

“Setelah sukses besar di Pemilu 2012, Pemilu 2014 dan 2019 bukti kami pejuang makin ditinggalkan rakyat. Secara keseluruhan parnas unggul kini, saya tidak habis pikir,” keluhnya lirih.

Sahabat!!!

Perang sampai damai hanya sebuah proses. Perjuangan dan perdamaian itu punya tujuan lebih besar dan lebih mulia. Bukan sekadar merebut kekuasaan dan menikmatinya.

Wali Hasan Tiro bukti keteguhan. Dia berjuang dengan keluar dari zona nyaman. Sebagai intelektual yang hidup mapan. Sampai menutup mata dia menolak menikmati. Dia fokus pada tujuan.

Mengapa kemudian mantan anak buahnya mudah berubah? Kita yang telah kehilangan idealisme akan melihat apapun di depan mata sebagai tujuan. Proses yang seharusnya dijalani dengan istikamah. Menapaki dengan berfokus pada tujuan. Akan tetapi, kenyataannya banyak yang tergoda di tengah jalan. 

Semisal berkebun, Anda hanya boleh memetik buah setelah ranum. Jangan mengambil cabangnya untuk kayu bakar. Konon lagi memetik putik buah yang mentah. Tumbuh cabang, berbunga dan putik buah adalah proses. Tujuannya menikmati buah yang ranum dan sempurna.

Cita-cita pasti luhur. Oleh karena itu, harus dijalani dengan jalan yang lurus dan benar. Jika tidak maka Anda seperti membuat kue, tapi tidak taat resep dan cara membuatnya. Hasilnya jelas tidak sesuai harapan awal.

Cita-cita adalah jalan terang pembimbing, yang akan memberi energi besar buat kita sampai padanya. Mereka yang menggadaikan idealisme, lupa pada cita-cita sesungguhnya pecundang. Hidup mereka sekadar memenuhi hasrat nafsu.

14 tahun Perdamaian Aceh. Mari kembali ke khitah.[]