Ini bukan mimpi yang berupa bunga tidur. Tapi mimpi yang dibangun dengan ramuan fantasi dan kesadaran. Dikatakan fantasi karena ia bagai membuat “gambar mental” sesempurna mungkin, sedang kesadaran diperlukan untuk mengadaptasi fantasi itu agar tidak liar dan tetap “tampak” realistik.

Mimpi itu bisa berkaitan dengan hal yang transenden, finansial, karir dan capaian personal ataupun sosial, termasuk tentang kehidupan keluarga dan bernegara.

Saat mimpi atau gambar mental itu terpatri dalam bawah sadar, lewat niat, ketulusan, doa dan lingkungan potensial, maka ia akan menjadi tali ikatan takdir yang baru bagi perkembangan diri dan sosial kita.

Cobalah atur dan setting kembali mimpi mimpi anda, dalam tahun ini atau lima tahun akan datang, dan teruslah mengasah kapasitas dalam hal terbaik yang bisa anda lakukan. Insyaa Allah Rahmat dan PertolonganNya akan menuntun kita dalam mencapai tujuan.

Ada kisah dari seorang teman dan guru saya, ia telah lama bermimpi untuk pergi umrah, melihat Baitullah, dan membangun rumah yatim serta menjamin kehidupan mereka dengan gajinya. Dan itu tidak kesampaian dengan gajinya yang belum memadai. Hanya saja, Allah Berkehendak bahwa  teman tadi tetap bisa berangkat umrah dan membangun rumah yatim di kampungnya lewat mediasi salah satu afiliasi BUMN, yang bahkan memudahkan dia untuk berinteraksi dalam pergaulan internasional. Sambil terus bersyukur dan terus bermimpi, sebab ia sedang memimpikan hal baru : bisa membangun rumah khusus guru bagi penghafal Quran, atau membangun rumah untuk penghafal Quran.

Mari terus memperbaiki diri dan memantaskan mimpi kita untuk menyambut takdirNya.[]

 

Taufik Sentana
Mengelola program seminar Kepemimpinan Diri dan Produktivitas. Banyak menulis esai sosial, pengembangan diri dan pendidikan Islam.Silahkan join di Taufik sentana Linkedin.com