Oleh Wahyu Mattawang 

Asalnya, moyang kita berasal dari Surga, kemudian melanjutkan keturunan di muka bumi sebagai khalifah (pemakmur bumi,ed), berkembang menjadi suku dan bangsa-bangsa.

Lalu diutuslah para Rasul untuk memandu setiap masa, setiap ummat, dengan satu pesan yang sama, Kalimat Tauhid-Laa ilaaha illallaah.

Kerasulan pun ditutup oleh Baginda Nabi Muhammad SAW untuk memimpin seluruh ummat manusia, sabagai rahmatan lil 'alamin. (Periode I)

Selepas Rasulullah, kepemimpinan ummat dilanjutkan oleh 4 sahabat khulafaur rasyidin. (Periode II)

Setelah Ali bin Thablib terbunuh dan syahid,  kepemimpinan setelahnya jatuh bangun dalam konflik yang berkepanjangan, dilakoni oleh 3 dinasti yang terkenal; Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Ustmaniyah. Sepanjang periode ini diwarnai intrik politik, perebutan tahta dan penyimpangan moral. Saat itu Islam sebagai agama dan undang-undang diakui secara de jure, tapi bukan de facto. Padahal di awal periode ini masih ada Sahabat Nabi dan Tabi'in. Namun demikian, dalam periode ini juga banyak melahirkan pemikir dan ulama-ulama besar (Periode III).

Menjadi Negara Bangsa

Runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani 1924 menandai berakhirnya kepemimpinan ummat dari percaturan dunia internasional. Ummat ini lalu melebur ke dalam negara dan bangsa-bangsa, dengan sistem politik dan pemerintahan masing-masing. Kini, tak ada satu negara pun yang menerapkan sistem Islam secara penuh, baik de jure maupun de facto. (Periode IV)

Kemudian muncul kesadaran di tengah-tengah ummat untuk mengembalikan Islam sebagai agama dan sistem kehidupan sebagaimana mestinya. Maka lahirlah berbagai gerakan untuk mengembalikan sistem Islam dalam dimensi tadi.

Di timur tengah lahir pemikir-pemikir Islam berpengaruh yang kemudian melahirkan gerakan seperti Wahabi, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dll. Gelombang kebangkitan ini juga menjalar ke nusantara, maka lahirlah Muhammdiyah, Nahdhatul Ulama, Persis, Al Irsyad, Dll.

Ada gerakan yang fokus pada pemurnian agama, ada yg memadukan pemurnian agama dan penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan ada gerakan yang berupaya mengembalikan kepemimpinan ummat seperti pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, baik secara bertahap maupun yang frontal (Menuju Periode V)

Pengaruh gerakan ini tersebar di berbagai negara, baik yg berhaluan dakwah murni maupun yang berhaluan politik. Sehingga di beberapa negara ada partai politik yg berafiliasi dengan pemikiran tersebut, baik langsung maupun tidak. Seperti di Indonesia pada pemilu 1955 ada Partai Masyumi yang dekat dengan Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Upaya dan Pendekatan

Untuk menuju Periode V sebagai fase terkahir ummat Islam yang dijanjikan Rasulullah SAW, berbagai gerakan Islam berlomba melakukan upaya dengan strategi untuk menuju ke sana. Mulai dari yang bertipikal moderat yg masuk ke dalam sistem bernegara. Mereka ikut berkompetisi dalam pemilu dengan tujuan meraih kemepimpinan dan mempengaruhi kebijakan politik yang berpihak pada kepentingan Islam. Hingga gerakan radikal dan di luar norma yang berupaya menggulingkan pemerintahan sah seperti yang dilakukan oleh kelompok ISIS.

Tentu Islam tidak pernah mengajarkan cara-cara yg biadab seperti teror dan tindakan radikal lainnya untuk tujuan apa pun, namun berbagai gerakan Islam yang ada saat ini rawan disusupi pemikiran radikal yang berbahaya. Di antara ciri gerakan yg rawan disusupi pemikiran radikal adalah indoktrinasi yang kuat namun sepi dari eksplorasi ide, pemikiran dan dialog.

Akibatnya, banyak gerakan yg terjebak ke dalam fanatisme kelompok yang berlebihan, ada yang menganggap kelompoknya suci tanpa cela, konsepnya sudah final tidak memerlukan revisi, hingga berani berani menyebut kelompok lain sesat bahkan keluar dari Islam. Mereka mungkin melupakan cerita awal gerakan-gerakan ini dibentuk, bahwa mereka lahir atas cita-cita yang sama, mengembalikan Islam sebagai soko guru peradaban.

Menjaga Identitas Besar

Ummat ini sudah terlalu jauh melenceng dari cita-citanya yang semula, mereka malah terlibat dalam konflik antarpartai dan kelompok, bahkan konflik juga terjadi pada internal partai dan kelompok tersebut. Identitas besar sabagai Muslim seakan tak terlalu penting lagi, mereka lebih bangga dengan identitas kecil sabagai anggota partai atau kelompok tertentu.

Lalu kapan ummat ini akan mengakhiri Periode IV yg penuh dengan tirani dan kesemena-menaan ini? Kapan kepemimpinan ummat ini akan kembali seperti janji Rasulullah? Jika hanya sibuk dangan diri sendiri dan persoalan kelompok masing-masing maka generasi ini hanya mengulang konflik yang pernah ada pada Periode III yang lalu dan telah berakhir dengan kehancuran. Jarak menuju Periode V rasanya masih terlalu jauh, kecuali kita berani mengubah arah sejarah.

Wahyu Mattawang
Bergiat di Pengembangan Pendidikan Islam.