Terhitung 17 Maret 2020, Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Teuku Umar memulai rangkaian belajar di rumah. Hal ini senada dengan anjuran pemerintah setempat sejak sehari lalu. Sebelumnya pihak sekolah baru melakukan sosialisasi program sembari melaksanakan shalat hajat dan doa bersama.
Rangkaian belajar di rumah tersebut dikelola khusus oleh wali kelas, guru bidang dan kerjasama orangtua. Sedang jadwalnya mengikuti pola jadwal sebagaimana biasa, diselingi shalat dhuha, zuhur, makan siang, dan ashar.
Yang berbeda hanya kondisi dan pendekatan saja, termasuk teknik evaluasi programnya. Untuk maksud itu, khususnya para guru menggunakan beragam variasi berbasis media, baik WA, video call, FB, Youtube, kelas Google, penampilan slide dan sebagainya, yang disesuaikan dengan target kelas dan pembelajaran formal di sekolah.
Megenai langkah yang diambil ini, Latifah M, S.si, selaku kepala sekolah mengatakan bahwa kegiatan ini luar biasa. Inilah efek lain dari corona, sebagai pembuktian sekokoh apa kerjasama orang tua dan guru dalam membantu anak-anak mendapatkan pembelajaran dalam situasi serba terbatas ini. Dan semua terasa lebih ringan karena tingkat kooperatif yang tinggi.
“Sya berharap agar kedepannya semangat ini tak luntur. Dalam 13 hari kedepan, semoga anak-anak tak merasa jenuh karena “belajar sendiri”, tak berteman dan terkesan monoton. Semoga orang tua dapat mengkondisikan agar lebih asik dan nyaman,” kata Latifah.
Pada sisi lain, Wali kelas 8, Lisa, menilah bahwa kegiatan sementara belajar di rumah tersebut baik dan dapat efektif walau tak seefektif versi tatap muka. Tapi sudah cukup meng-cover dengan situasi dan kondisi saat ini. Yang penting, kata dia, semangat dari kedua belah pihak, guru dan murid serta dukungan dari orangtua.
Sementara itu, menurut seorang siswi, Ratu, menanggapi positif pola sekolah di rumah ini. Menurutnya gaya belajar saat masa jeda covid-19 seru juga, tapi agak ribet bagi yang tak biasa belajar di rumah. Apalagi waktunya teratur seperti di sekolah formal.
Untuk diketahui, bahwa pola sekolah rumah ini memang dianjurkan oleh pemerintah, agar kegiatan anak dapat terarah dan tidak bepergian yang bisa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan diri dan masyarakat umum.[]
Kiriman Taufik Sentana
Pegiat literasi pendidikan



