SUBULUSSALAM – Kondisi jembatan Bailey yang menghubungkan Kecamatan Simpang Kiri menuju Longkib dan Runding, Kota Subulussalam mengalami kemiringan sekitar 30 centimeter, diduga akibat pondasi ambruk.
Amatan portalsatu.com, Rabu 17 Agustus 2016 kondisi jembatan tampak miring, terutama di bagian kepala jembatan sebelah kiri dari Subulussalam menuju Runding. Agar tidak ambruk ke dasar sungai jembatan itu harus ditopang dengan pohon kelapa.
Di lokasi tersebut terlihat dua buah papan nama untuk mengingatkan kepada pengguna jalan bahwa kapasitas jembatan maksimal hanya 3 ton. Akibatnya mobil angkutan dari Runding, Longkib menuju Simpang Kiri atau sebaliknya yang melebih 3 ton harus menempuh jalur alternatif mengelilingi Kampung Suka Makmur.
Keberadaan jembatan yang berada di jalan provinsi itu sangat dibutuhkan mengingat ada ribuan masyarakat setiap hari melintas membawa hasil perkebunan seperti buah sawit ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tidak jauh dari jembatan tersebut.
Usia jembatan bailey ini baru sekitar 10 bulan setelah dibangun pada November 2015 lalu. Kerusakan pada bagian kepala jembatan ini diduga akibat pondasi yang tidak kokoh, sehingga tidak mampu menahan beban berat dan ambles.
“Kekuatan jembatan ini karena ditopang pohon kelapa. Jika banjir pohon kelapa hanyut, maka jembatan dikhawatirkan ambruk total,” kata Bahri salah seorang pengguna jalan kepada wartawan di lokasi.
Masyarakat berharap Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Aceh dapat segera memperbaiki pondasi jembatan tersebut. “Jika tunggu ambruk baru diperbaiki, karena kondisi sudah sangat rawan,” kata Lukmad.
Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Subulussalam, Anasri ST saat dikonfirmasi mengatakan kondisi kerusakan jembatan tersebut sudah disampaikan ke Provinsi Aceh.
“Pihak provinsi sudah melakukan sonder uji kelayakan dan ketahanan tanah. Sudah diusulkan untuk pembangunan tahun depan,” kata Anasri.[]
Laporan Sudirman

