BLANGKEJEREN – Warga yang tinggal di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues benar-benar terisolir pasca bencana banjir dan tanah longsor, tiga unit jembatan penghubung antar Kecamatan dan antar Kabupaten Gayo Lues dengan Aceh Timur putus total, dan seratusan titik badan jalan tertimbun longsor dan amblas.

Kepala Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Kamaruddin, Selasa, 2 Desember 2025, di Posko banjir Gayo Lues, mengatakan dirinya bersama warga Pasir Putih terpaksa berjalan kaki dua hari dua malam untuk menuju Posko.

“Kami terpaksa menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan sekilo beras, karena stok beras masyarakat Pasir Putih sudah habis,” katanya sambil berlinang air mata.

Sebelumnya kata Kamaruddin, ada Hely Kopter yang menurunkan bantuan di Kecamatan Pining, tetapi hanya makanan siap saji dan beberapa barang lainya, sementara yang paling dibutuhkan warga yang mengungsi adalah beras.

“Kami berjalan kaki selama dua hari dari Desa Pasir Putih untuk bisa sampai ke desa Gajah, dari desa Gajah ke kota Blangkejeren sudah bisa naik sepeda motor jenis Trail,” ujarnya.

Kondisi jembatan dan jalan dari Pasir Putih ke Kecamatan Blangkejeren sangat memprihatinkan, kondisi jembatan banyak yang hanyut, dan ratusan kilometer badan jalan tertimbun longsor dan amblas.

“Jembatan utama penghubung Kecamatan Blangkejeren dengan Kecamatan Pining tembus ke Aceh Timur adalah jembatan Pintu Rime, jembatan Pepelah, dan jembatan Pasir Putih, semuanya sudah putus total,” katanya.

Akibat banjir dan tanah longsor itu, banyak warga di Kecamatan Pining terpaksa mengungsi, terutama warga Pasir Putih yang tinggal di sekitar aliran sungai.

“Jumlah pengungsi untuk desa Pasir Putih saja mencapai 550 jiwa, dan semuanya butuh beras. Sehingga kami sepakat berjalan kaki ke kota Blangkejeren untuk meminta bantuan beras dari Pemerintah Daerah, sedangkan teman kami menunggu di desa Gajah sebagian,” katanya.[]