Ialah jiwa pendobrak

yang bergerak ke setiap amal baik:

semua amal yang merefleksikan sikap tunduk
dan pasrah pada Sang Khaliq.

Ialah jiwa yang bergerak menopang zaman
agar tak lapuk oleh rakus dan kebodohan.
Jiwa pendobrak bukan jiwa sembrono, melawan arus tanpa perspektif di cakrawala. Tapi jiwa yang tertata dalam pengertian  utuh guna mencapai tujuan tinggi.

Jiwa muhajir selalu dibutuhkan
untuk menyalakan zaman yang cenderung menjadi gelap. Yang gelap oleh lalai, kelemahan dan keangkuhan.[]

Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik.