BANDA ACEH – Direktur Eksekutif The Aceh Institute, Dr. Saiful Akmal, menilai debat terakhir capres dan cawapres pada Sabtu, 13 April 2019 malam, menjadi sajian menarik bagi calon pemilih.
“Debat terakhir tersebut seolah mengkonfirmasi bahwa kedua kandidat memang punya pendekatan yang berbeda dalam tema ekonomi, tenaga kerja dan kesejahteraan sosial, serta keuangan dan investasi,” ujar Saiful Akmal kepada portalsatu.com, Minggu, 14 April 2019.
Saiful Akmal menilai baik Jokowi dan Prabowo sepakat bahwa pembangunan ekonomi dilakukan dengan hilirisasi. Namun, berbeda dalam pendekatan.
“Jokowi mengatakan ekonomi makro, infrastruktur dan sektor primer adalah fundamen pembangunan ekonomi. Sedang Prabowo-Sandi menyoroti penguatan regulasi strategi pembangunan ekonomi mikro dengan fokus pada ekspor dan agripreneurship. Sandi menambahkan bahwa pemerataan akses bagi ekonomi keluarga menjadi tulang punggung ekonomi nasional ke depan,” kata dosen UIN Ar-Raniry ini.
Di luar itu, kata Saiful Akmal, kecanggihan istilah Ma'ruf Amin yang sempat populer dengan istilah “infrastruktur langit dan dana abadi” kembali muncul dengan istillah “dedi: desa digital” dan “dewi: desa wisata” yang cukup menarik perhatian, meski masih terkesan normatif dalam konsepnya. Sementara Sandi menyoroti kepastian usaha dan pemberdayaan ekonomi dan industri halal melalui penguatan Bank Syariah dan tidak hanya terpatri pada fokus sertifikasi produk.
“Secara umum dari semua sesi yang ada, kedua kandidat tampil lebih baik terkecuali pada sesi terakhir, khususnya Jokowi dan Sandi. Namun meski Jokowi kelihatan tampil lebih baik dan tenang, Sandi tetap saja lebih siap dan berhasil mencuri perhatian pemirsa dengan kalimat penutupnya bahwa jika diamanahkan terpilih tidak akan mengambil sepeserpun gaji sebagai presiden dan wakil presiden,” ujar Saiful Akmal.[]


