JAKARTA – Aktivis perdamaian Aceh, Juha Christensen, berbicara lugas tentang proses damai Aceh saat ditemui portalsatu.com di kawasan Cikini, Jakarta, 5 Maret 2019. Lelaki Finlandia ini terlibat banyak memediasi perdamaian Aceh sejak CoHA.

“Perdamaian Aceh baru belasan tahun, tentu belum semuanya selesai, jadi jangan pesimis. Ini baru proses awal tapi sudah cukup baik. Mana mungkin langsung sesuai harapan semua pihak,” ujarJuha.

Juha memberi contoh negerinya Finlandia. Butuh 80 tahun untuk menyembuhkan luka perang yang cuma 10 bulan.

“Finlandia merdeka pada Desember 1917 dari Prusia (Rusia). Sebulan kemudian yaitu Januari 1918 pecah perang saudara. Yaitu antara faksi pro kemerdekaan dan faksi pro tetap di bawah kekaisaran Prusia. Perang berlangsung 10 bulan menewaskan 40 ribu lelaki atau 3% dari populasi pria Finlandia saat itu. Perang itu membuat luka yang besar bagi bangsa kami. Terus saja menjadi penggesekan dari perang dunia pertama sampai perang dunia kedua,” tuturnya dengan mimik sedih.

Juha menjelaskan, neneknya sering bercerita bagaimana sakitnya luka perang saudara itu. Hidup dalam sebuah negara dan berbangsa sama tapi selalu ada gesekan akibat perang masalalu. “Baru tahun 90-an rekonsiliasi benar-benar terjadi. Setelah penyelidikan oleh negara yang komprehensif. Kedua pihak dan keturunannya kemudian menghapus semua kenangan itu dan saling memaafkan,” tambah pria yang kini bekerja di perusahaan Finlandia berkantor di Singapura.

Juha mengaku tetap mengamati dinamika di Aceh. Ia merasa prihatin dengan orang-orang yang pesimis terhadap proses damai. “Harus sabarlah. Yang penting semua pihak bekerja mewujudkan apa saja yang menjadi tujuan perdamaian. Jadi, jangan menuntut terus dan mencari-cari hal negatif,” ujarnya.

“Bagi saya, perdamaian itu memang cita-cita orang Aceh. Jadi, untuk sukses, semua harus bekerja sesuai kemampuan masing-masing. AMM dulunya bersifat sementara dan telah membangun fondasi yang baik,” kata Juha.

Juha mengakui Aceh Monitoring Mission (AMM) ada juga gagalnya, terutama soal reintegrasi, karena waktu yang terlalu singkat. “Sulitnya AMM menyelesaikan reintregrasi sebab kasus Aceh berkait dengan bencana tsunami. Jadi lebih complicate dan rumit. Saat ini butuh komitmen pusat dan pemerintah daerah supaya program ini mencapai titik sukses,” ujar Juha dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Dia menilai saat ini Aceh jauh lebih baik. Sehingga hanya butuh komitmen untuk terus membangun dan menyejahterakan masyarakat Aceh.

Menurut Juha, kesejahteraan dan keadilan ekonomi syarat wajib bagi kelanggengan perdamaian. “Generasi baru Aceh harus lebih peduli dan mencari tahu tentang proses damai. Jangan dikira mudah merintisnya dulu. Sehingga kini mereka ada yang lupa dan menuntut perbaikan dengan cepat”.

“Aceh harus bangkit. Untuk itu peran besar harus dilakukan rakyat Aceh. Termasuk mendorong pemerintah pusat terus menyelesaikan persoalan reintegrasi dan rekonsiliasi,” tegas Juha.

Juha mengatakan, hal terpenting adalah rekonsiliasi. Baik sesama orang Aceh maupun dengan Indonesia dalam arti luas. “Tidak ada reintegrasi tanpa rekonsiliasi. Saya warga Finlandia yang cinta damai. Makanya bekerja untuk perdamaian. Pengalaman negeri kami menjadi spirit buat perdamaian Aceh dalam Indonesia,” ujarnya.[]