Di sebuah bukit yang terletak antarak Kecamatan Bandar Dua, Ulee Gle dan Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Di atas bukit itu terdapat sebuah kuburan, yang oleh masyarakat Ulee Gle dan Ulim, kuburan itu disebut kubu Teungku Di Rubih. Bahkan bukit itu masyarakat “Gle Teungku Di Rubih”.
Seingat saya dulu di tahun-tahun '70-80-an, kalau kita berada di jalan raya Banda Aceh-Medan antara Ulee Gle dan Ulim, bila dilihat ke arah selatan akan nampak atap kuburan Tgk. Di Rubih di atas bukit itu dari kejauhan.
Semula saya mengira kubu Tgk. Di Rubih itu adalah kubur seorang Tgk. Laki-laki. Belakangan dari cerita orang tua-tua baru saya tahu, kalau Tgk. Di Rubih itu adalah seorang perempuan yang terkubur di atas bukit itu.
Disebut Tgk. Di Rubih, karena beliau bernama Rubiyah. Dari namanya itu–bila dihubungkan dgn nama-nama perempuan Aceh–jelas menunjukkan bahwa kuburan Tgk. Di Rubih itu adalah kuburang seorang perempuan.
Saya belum menemukan sumber yang pasti, menyangkut siapa sebenarnya Tgk. Di Rubih ini. Ada cerita, Tgk. Di Rubih ini adalah seorang syuhada yang syahid dalm bergerilya pada waktu perang Belanda di Aceh.
Itu artinya, ada indikasi bahwa Tgk. Di Rubih yang terkuhur di atas bukit itu adalah seorang perempuan pejuang pada zaman Belanda di Aceh. Hal ini dimungkinkan, sebab banyak kuburan-kuburan syuhada lainnya di Aceh yang kita temukan di pinggir-pinggir bukit tak jauh dari jalan-jalan raya.
Seperti juga kuburan Tgk. Di Lapan, yang terdapat di pinggir jalan Gle Geulungku Samalanga. Di situ terkubur 8 orang syuhada yang syahid dalam perang Belanda.
Sampai awal tahun 1980-an, makam Tgk. Di Rubih di atas bukit perbatasan Ulee Gle dan Ulim Pidie Jaya itu, masih dijadikan sebagai makam tempat bernazar oleh masyarakat. Ada yang menyembelih kambing di tempat kuburan Tgk. Di Rubih itu, ada yang mengadakan kenduri untuk peulheuh kaoi tertentu oleh masyarakat.
Bahkan masyarakat Ulee Gle, Ulim, termasuk masyarakat Meureudu, apabila musim menanam padi di sawah, dan padi itu sudah mulai dara yang rawan dari gangguan hama penyakit, baik hama bana, geusong, dan hama tikus, maupun hama belalang.
Untuk menangkal semua gama penyakit padi itu, dulu masyarakat Ulee Gle, Ulim dan Meureudu, datang ke tempat kuburan Tgk. Di Rubih itu sedikit mengambil tanah, kain bupanji (ija bupanji) yang selalu ada di kuburan Tgk. Di Rubih itu untuk dibawa pulang masyarakat.
Tanah yang diambil di kuburan Tgk. Di Rubih itu kemudian di tabur ke dalam sawahnya masing-masing oleh masyarakat. Dan kain bupanji yang diambil pada kuburan Tgk. Di Rubih itu, setelah dibawa pulang dicincang dan disematkan pada tiang-tiang bambu, lalu dipacang di tengah-tengah sawah, yang diniatkan masyarakat agar padi yang sedang memuda di sawah terhindar dari segala penyakit hama.
Apa yang dilakukan masyarakat dalam hal itu, saat itu tidak ada yang protes, itu bid'ah, itu kurafat, itu tahayul. Dan masyarakat ketika itu meyakini, bahwa semua yang dilakukan itu akan membawa baraqah bagi hasil panen padinya.
Dan kebiasaan itu, dulu dilakukan masyarakat Aceh secara turun temurun, tidak ada persoalan bid'ah, tahayul, dan kurafat.
Bahkan semua itu, kalau dalam istilah orang yang sudah berfikir modern biasa disebut sebagai kearifan lokal.
Jadi, kenapa sekarang di satu sisi orang-orang modern mengagung-agungkan kearifan lokal, tapi di sisi lain mereka menyerang dan menentang kearifan-kearifan lokal dalam suatu masyarakat.
Bek lagee ureueng ban jeut silet nah, bacut meukreh langsong peuudep silet. Padahal silet baro jeuet tingkat langkah sa, igop yang kajeut jisambot mata leumbeng atee itop hana meutatupue pih jih carong silet.[]Sumber:facebook.com
Penulis: Nab Bahany As, budayawan Aceh.





