Acara workshop baru saja dimulai. Tiba-tiba lemari, meja dan seisi ruangan bergoyang. “Gempa… gempa… gempa,” teriak mereka. Sementara yang tunawicara menyampaikan situasi ke rekan sesamanya dengan bahasa isyarat.
Mereka pun berhamburan ke luar ruangan lewat pintu darurat, mencari tempat yang aman dari reruntuhan manakala gedung roboh. Yang tunanetra memegang tangan si tunawicara. Sebagian lainnya membantu mendorong kursi teman mereka yang memakai kursi roda. Mereka semua berhasil ke luar ruangan dan mencari titik kumpul yang aman dari gempa.

Di sana mereka berdoa agar musibah segera berhenti, dan mencari tahu sanak saudara mereka yang lainnya. Mereka yang selamat saling berpelukan dalam lantunan zikir.
Begitulah simulasi risiko bencana untuk kaum disabilitas yang digelar Forum Komunikasi Masyarakat Berkebutuhan Khusus Aceh (FKMBKA) di Aula Gedung Universitas Iskandar Muda (Unida) Banda Aceh, Rabu, 25 Desember 2019, siang.
“Simulasi ini merupakan bagian dari workshop yang kita buat di dalam ruangan. Kita langsung mempraktekan kepada para peserta yang semuanya disabilitas bagaimana menyelamatkan diri dari dalam gedung atau rumah apabila terjadi gempa bumi,” kata Katua FKMBKA, Syarifuddin, kepada wartawan usai simulasi.
Dia mengatakan, workshop bertema “Kita Tingkatkan Kemampuan Dalam Menghadapi Bencana” bagi disabilitas tersebut, bagian dari refleksi 15 tahun tsunami Aceh. “Bagaimana kaum disabilitas dapat terus meningkatkan kualitas diri dalam mengurangi risiko bencana,” ujarnya.
Sayangnya, tambah dia, Pemerintah Aceh masih sangat kurang memberi dukungan terhadap kaum disabilitas untuk diskusi pengurangan risiko bencana. Beberapa proposal diajukan untuk acara workshop dan simulasi jenis ini, tak kunjung direalisasikan. “Acara ini dapat kita laksanakan berkat bantuan salah seorang ulama di Turki melalu Yayasan KAFALAH di Banda Aceh, bukan dari Pemerintah Aceh,” katanya.

Dapat Pengalaman
Ayu Agus Murniana (38), salah seorang disabilitas mengaku senang dengan workshop dan simulasi pengurangan risiko bencana ini. Sebab, kata dia, dirinya masih sangat minim ilmu bagaimana menyelamatkan diri ketika gempa dan tsunami datang.
“Masih suka panik, sehingga menjadi terlambat dalam menyelamatkan diri. Dengan pelatihan ini, saya semakin banyak pengetahuan,” katanya di atas kursi roda miliknya. Ayu mengalami lumpuh kedua kakinya.
Senada dengan Ayu juga disampaikan Halimah (40). Wanita berkursi roda yang tingga di Lhamlhom, Loknga, ini mengaku melalui simulasi ini dirinya semakin paham dalam menghadapi bencana.
“Dengan simulasi ini kami dapat mengingat akan musibah Aceh 15 tahun lalu dan kami paham menghadapi bencana. Setidaknya untuk diri sendiri dan keluarga,” katanya.[]





