ACEH BARAT – Alur Sungai Meureubo, Aceh Barat, di Gampong Ujung Drien dan Meureubo, yang merupakan jalur keluar masuk kapal nelayan tradisional di wilayah itu acap mengering saat air sungai surut.
Akibatnya, nelayan setempat kerap gagal melaut, karena kapal mereka sering kandas saat hendak pergi melaut melewati Kuala Meureubo.
“Kejadian ini sudah berlangsung sejak 2016 silam. Itu terjadi saat situasi pasangnya turun pada jam-jam mereka berangkat atau pulang,” ungkap Geuchik Gampong Meureubo, Muhammad Lizan, kepada portalsatu.com/, Senin, 2 Juli 2018, siang.
Lizan mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan pengerukan aliran sungai dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.
Namun, Lizan mengaku tak tahu, apakah usulan mereka itu dibahas dalam Musrenbang tingkat kabupaten atau tidak. “Kami tidak tahu menahu apakah usulan kami dihapus ataupun tidak,” kata Lizan.
Dia berharap, pemerintah mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kapal-kapal nelayan di gampong tersebut tidak lagi kandas saat hendak melaut ketika air sungai surut.
Ketua DPRK Aceh Barat, Ramli, S.E., saat dimintai tanggapannya, mengatakan, seharusnya pemerintah setempat tidak tinggal diam. Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah untuk menuntaskan permasalahan tersebut.
Menurut Ramli, dinas terkait bisa menurunkan dua unit alat berat jenis excavator yang dimiliki pemerintah untuk mengeruk alur sungai.
“Jangan tinggal diam, terutama bupati. Perhatikanlah bagaimana kondisi masyarakat di situ. Beko untuk pengerukan kan ada, tidak payah disewa. Ada dua unit itu,” kata Ramli.[]



