__Kita tidak bisa membayangkan apa yang lebih parah dari kecanduan? mungkin “kegilaan sementara”, kegilaan yang tak tampak__
Oleh Taufik Sentana*
Mau tidak mau kita telah dihadapkan pada capaian komunikasi yang semakin cepat dan beragam. Dari segi platform, konten dan motif motifnya terus membanjiri ruang (maya) sosial kita. Setidaknya, usia 13 th sd usia 50 thn menyumbang 2\3 pengguna medsos yang populer. Bahkan konten TV digital dan berbasis youtube juga semakin meluas.
Terkadang, dalam amatan pribadi kita, banjir informasi dan kemudahan akses sosial tadi menyisakan ruang ketidakberdayaan diri sendiri. Apa itu ketidakberdayaan? suatu sikap latah, alineasi, keasingan diri dan kerentanan mental. Belum lagi dampak fisikis berupa radiasi pada mata, gangguan saraf dan lain lain.
Menurut cacatan klinis para ahli, dilansir dari serambinews, ganngguan mental akibat bermedsos melebihi sekadar kecanduan. Artinya, dampak psikologisnya lebih parah dari menjadi candu. Kita tidak bisa membayangkan apa yang lebih parah dari kecanduan? mungkin “kegilaan sementara”, kegilaan yang tak tampak.
Para ahli tadi berpendapat bahwa ambang sehat perilaku bermedsos setiap orang tentu berbeda. Tapi indikasinya bisa kita ukur sesuai norma yang lazim. Misal, norma waktu, utama jelang tidur, adab relasi dan sosial dan tingkat kepentingan akses medsos tersebut.
Bisa saja, rasa ingin tahu yang berlebihan membuat kita kecanduan medsos, muncul rasa tak nyaman bila tak melihat dan memantau situasi grup/aplikasi sosial.
Seringan ringannya, kita bisa “menjauh” dari medsos sekitar dua atau tiga jam, agar kestabilan mental-emosi kita terjaga. Kita bisa mengalihkan ke kegiatan yang benar benar nyata dan lebih kaya, alami dan menyegarkan jiwa secara riil: menikmati interaksi fisik dengan keluarga dan sahabat, melayani orang orang, menikmati ibadah, membaca buku, berkebun dan lainnya tanpa “diganggu” rasa gatal jempol ingin mengakses medsos.[]
*Peminat kajian psikologi sosial dan budaya urban.




