Sebutan terbaik bagi kaum terpelajar yang diabadikan Alquran adalah “ulul albab”. Sebagian menyebut kata albab dengan pikiran terdalam, hati nurani yang paling inti, atau yang menggunakan akal fikiran. Jadi menjadi terpelajar dalam maksud ini adalah mendaya gunakan akal sebaik mungkin bagi maslahah dunia dan akhirat.

Kaum terpelajar menjadikan semua aktivitasnya bernilai hasanah (kebaikan) sehingga menjadi sarana ibadah. Alquran merangkum aktivitas itu dengan kata “berdiri”, “duduk” dan bahkan “berbaring”.

Apa yang dilakukan mereka dalam posisi tersebut?  Secara pokok mereka mengingat Allah dengan mengerjakan kewajiban dan ketaatan. Kemudian mereka juga terlibat dalam siklus sosial. Mereka mencermati alam dan memikirkan dengan dalam terhadap penciptaan langit dan bumi serta apa yang terjadi dalam siang-malamnya.

Sedangkan  di malam sunyi mereka menuntaskan tafakkur  dan munajat di ujung malam, seraya berdoa ” Maha Suci Engkau ya Allah tiada yang sia sia dari apa yang Engkau Ciptakan, jauhkan kami (bukan dengan kata “aku”) dari azab neraka”.

Berbahagialah suatu masyarakat bila kultur pendidikan mereka dapat melahirkan generasi terpelajar dengan karakter di atas tadi.[]

Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia Kab.Aceh Barat.
Tadabbur Surat Ali Imran, 190-192.p